<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>.::Pengingat + Bacaan::.</title>
	<atom:link href="http://ayulian.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ayulian.wordpress.com</link>
	<description>CukupkanLah diRimu dengan Ridha ALLaH</description>
	<lastBuildDate>Fri, 02 Jul 2010 06:28:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ayulian.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/4715733279010488729a211a24f48e7d?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>.::Pengingat + Bacaan::.</title>
		<link>http://ayulian.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ayulian.wordpress.com/osd.xml" title=".::Pengingat + Bacaan::." />
	<atom:link rel='hub' href='http://ayulian.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kecantikan Sejati</title>
		<link>http://ayulian.wordpress.com/2009/06/07/kecantikan-sejati/</link>
		<comments>http://ayulian.wordpress.com/2009/06/07/kecantikan-sejati/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Jun 2009 04:22:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayulian</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARtikeL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ayulian.wordpress.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[Adalah kebahagiaan seorang laki-laki ketika Allah menganugrahkannya seorang istri yang apabila ia memandangnya, ia merasa semakin sayang. Kepenatan selama di luar rumah terkikis ketika memandang wajah istri yang tercinta. Kesenangan di luar tak menjadikan suami merasa jengah di rumah. Sebab surga ada di rumahnya; Baiti Jannati (rumahku surgaku). Kebahagiaan ini lahir dari istri yang apabila [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayulian.wordpress.com&amp;blog=6755621&amp;post=110&amp;subd=ayulian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Adalah kebahagiaan seorang laki-laki ketika Allah menganugrahkannya seorang istri yang apabila ia memandangnya, ia merasa semakin sayang. Kepenatan selama di luar rumah terkikis ketika memandang wajah istri yang tercinta. Kesenangan di luar tak menjadikan suami merasa jengah di rumah. Sebab surga ada di rumahnya; <em>Baiti Jannati</em> (rumahku surgaku).<span id="more-110"></span></p>
<p>Kebahagiaan ini lahir dari istri yang apabila suami memandangnya, membuat suami bertambah kuat jalinan perasaannya. Wajah istri adalah keteduhan, telaga yang memberi kesejukan ketika suami mengalami kegerahan. Lalu apakah yang ada pada diri seorang istri, sehingga ketika suami memandangnya semakin besar rasa sayangnya? Konon, seorang laki-laki akan mudah terkesan oleh kecantikan wajah. Sempurnalah kebahagiaan seorang laki-laki jika ia memiliki istri yang berwajah memikat.</p>
<p>Tapi asumsi ini segera dibantah oleh dua hal. Pertama, bantahan berupa fakta-fakta. Dan kedua, bantahan dari sabda Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Konon, Christina Onassis, mempunyai wajah yang sangat cantik. Ia juga memiliki kekayaan yang sangat besar. Mendiang ayahnya meninggalkan harta warisan yang berlimpah, antara lain kapal pesiar pribadi, dan pulau milik pribadi juga. Telah beberapa kali menikah, tetapi Christina harus menghadapi kenyataan pahit. Seluruh pernikahannya berakhir dengan kekecewaan. Terakhir ia menutup kisah hidupnya dengan satu keputusan: bunuh diri.</p>
<p>Kecantikan wajah Christina tidak membuat suaminya semakin sayang ketika memandangnya. Jalinan perasaan antara ia dan suami-suaminya tidak pernah kuat.</p>
<p>Kasus ini memberikan ibroh kepada kita bahwa bukan kecantikan wajah secara fisik yang dapat membuat suami semakin sayang ketika memandangnya. Ada yang bersifat psikis, atau lebih tepatnya bersifat qalbiyyah!</p>
<p>Bantahan kedua, sabda Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em>: <em>“Seorang wanita dinikahi karena empat hal; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang taat beragama niscaya kamu akan beruntung.”</em> (HR. bukhari, Muslim)</p>
<p>Hadist di atas sebagai penguat bahwa kesejukan ketika memandang sehingga perasaan suami semakin sayang, letaknya bukan pada keelokan rupa secara zhahir. Ada yang bersifat bathiniyyah.</p>
<p>Dengan demikian wahai saudariku muslimah, tidak mesti kita harus mempercantik diri dengan alat kosmetik atau dengan menggunakan gaun-gaun aduhai yang akhirnya akan membawa kita pada sikap berlebihan pada hal yang halal bahkan menyebabkan kita menjadi lalai dan meninggalkan segala yang bermanfaat dalam perkara-perkara akhirat, <em>wal ‘iyadzubillah</em>. Namun tidak berarti kita meninggalkan perawatan diri dengan menjaga fitrah manusia, dengan menjaga kebersihan, kesegaran dan keharuman tubuh yang akhirnya melalaikan diri dalam menjaga hak suami. Ada yang lebih berarti dari semua itu, ada yang lebih penting untuk kita lakukan demi mendapatkan cinta suami.</p>
<p>Sesungguhnya cinta yang dicari dari diri seorang wanita adalah sesuatu pengaruh yang terbit dari dalam jiwa dengan segala kemuliaannya dan mempunyai harga diri, dapat menjaga diri, suci, bersih, dan membuat kehidupan lebih tinggi di atas egonya.</p>
<p>Untuk itulah saudariku muslimah… Tuangkanlah di dalam dada dan hatimu dengan cinta dan kasih sayang serta tanamkanlah kemuliaan wanita muslimah seperti jiwamu yang penuh dengan kebaikan, perhatian serta kelembutan. Bukankah kita telah melihat contoh-contoh yang gemilang dari pribadi-pribadi yang kuat dari para <em>shahabiyyah radiyallahu ‘anhunna…</em>?</p>
<p>Janganlah engkau penuhi dirimu dengan ahlak yang selalu sedih dan gelisah, banyak pengaduan dan keluh kesah dan selalu mengancam, karena hal tersebut akan menggelapkan hatimu. Tersenyumlah untuk kehidupan. Seperti kuatnya para shahabiyyah dalam menghadapi kehidupan yang keras dan betapa kuatnya wanita-wanita yang lembut itu mempertahankan agamanya…</p>
<p>Perhiasan jiwa, itulah yang lebih utama. Yaitu sifat-sifat dan budi pekerti yang diajarkan Islam, yang diawali dengan sifat keimanan. Sebagaimana firman Allah, (yang artinya) <em>“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan.”</em> (QS. Al-Hujaraat: 7)</p>
<p>Apabila keimanan telah benar-benar terpatri dalam hati, maka akan tumbuhlah sifat-sifat indah yang menghiasi diri manusia, mulai dari Ketakwaan, Ilmu, Rasa Malu, Jujur, Terhormat, Berani, Sabar, Lemah Lembut, Baik Budi Pekerti, Menjaga Silaturrahim, dan sifat-sifat terpuji lainnya yang tidak mungkin disebut satu-persatu. Semuanya adalah nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada hamba-hambanya agar dapat bahagia hidup di dunia dan akhirat.</p>
<p>Wanita benar-benar sangat diuntungkan, karena ia memiliki kesempatan yang lebih besar dalam hal perhiasan jiwa dengan arti yang sesungguhnya, yaitu ketika wanita memiliki sifat-sifat terpuji yang mengangkat derajatnya ke puncak kemuliaan, dan jauh dari segala sesuatu yang dapat menghancurkanya dan menghilangkan rasa malunya….!</p>
<p>Saudariku… jika engkau telah menikah, maka nasihat ini untuk mengingatkanmu agar engkau selalu menampilkan kecantikan dirimu dengan kecantikan sejati yang berasal dari dalam jiwamu, bukan dengan kecantikan sebab yang akan lenyap dengan lenyapnya sebab.</p>
<p>Saudariku… jika saat ini Allah belum mengaruniai engkau jodoh seorang suami yang sholeh, maka persiapkanlah dirimu untuk menjadi istri yang sholihah dengan memperbaiki diri dari kekurangan yang dimiliki lalu tutuplah ia dengan memunculkan potensi yang engkau miliki untuk mendekatkan dirimu kepada Yang Maha Rahman, mempercantik diri dengan ketakwaan kepada Allah yang dengannya akan tumbuh keimanan dalam hatimu sehingga engkau dapat menghiasi dirimu dengan akhlak yang mulia.</p>
<p>Saudariku… ini adalah sebuah nasihat yang apabila engkau mengambilnya maka tidak ada yang akan diuntungkan melainkan dirimu sendiri.</p>
<p>Dikirim: Ummu Yusuf Wikayatu Diny</p>
<p>Disalin dari: Buletin al-Izzah edisi no16/thn III/Muharram 1425 H</p>
<p>(<em>Bulletin ini diterbitkan oleh Forkimus (Forum Kajian Islam Muslimah Salafiyah) Mataram, Lombok, NTB</em>)</p>
<p>sumber : <a href="www.muslimah.or.id" target="_blank">www.muslimah.or.id</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ayulian.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ayulian.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ayulian.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ayulian.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ayulian.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ayulian.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ayulian.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ayulian.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ayulian.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ayulian.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ayulian.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ayulian.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ayulian.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ayulian.wordpress.com/110/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayulian.wordpress.com&amp;blog=6755621&amp;post=110&amp;subd=ayulian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayulian.wordpress.com/2009/06/07/kecantikan-sejati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7e162fc37d4763ef9a994a0e74d9caa2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengajarkan Rukun Iman Pada Anak</title>
		<link>http://ayulian.wordpress.com/2009/06/01/mengajarkan-rukun-iman-pada-anak/</link>
		<comments>http://ayulian.wordpress.com/2009/06/01/mengajarkan-rukun-iman-pada-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 09:16:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayulian</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARtikeL]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ayulian.wordpress.com/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[Agar anak memiliki aqidah yang lurus sejak dini, maka sejak kecil ia harus dididik tentang aqidah yang benar. Salah satunya dengan mengajarkan rukun iman pada anak. Anak tidak cukup diajari untuk menghafalnya, tetapi juga perlu diberi penjelasan dengan bahasa yang ia pahami. Iman kepada Allah Ajarkan pada anak bahwa Allah itu satu, tidak ada sekutu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayulian.wordpress.com&amp;blog=6755621&amp;post=108&amp;subd=ayulian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p>Agar anak memiliki aqidah yang lurus sejak dini, maka sejak kecil ia harus dididik tentang aqidah yang benar. Salah satunya dengan mengajarkan rukun iman pada anak. Anak tidak cukup diajari untuk menghafalnya, tetapi juga perlu diberi penjelasan dengan bahasa yang ia pahami.<span id="more-108"></span></p>
<h2>Iman kepada Allah</h2>
<p>Ajarkan pada anak bahwa Allah itu satu, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan tidak ada sesembahan lain bersama-Nya. Kalau di bumi dan langit ada sesembahan selain-Nya, tentu keduanya akan rusak.</p>
<p>Ajari anak surat Al-Ikhlas (1-4), dan mintalah mereka menghafalnya sekaligus dengan artinya.</p>
<p>“Katakanlah, ‘Allah itu satu. Yang menjadi sandaran semua makhluk. Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.’”</p>
<p>Laranglah anak berbuat syirik, dan ajarkan tauhid pada mereka. Beritahukan pada anak bahwa syirik atau menyekutukan Allah azza wa jalla adalah dosa terbesar yang tak terampuni.</p>
<p style="margin-top:6pt;">Perkenalkan pada anak Rabb mereka, dan bahwa Dialah yang mencipta dan memberi rezeki, yang menghidupkan dan mematikan, memuliakan dan menghinakan, yang mengangkat dan merendahkan.</p>
<p>Ajarkan nama-nama Allah yang indah dan sifat-sifatNya yang luhur sesuai dengan manhaj ahlussunnah waljamaah dari kalangan sahabat Rasulullah dan tabiin yang datang setelah mereka.</p>
<p>Ajarkan pula bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy (Thaha: 5), dan pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu (Thaha: 98)</p>
<p>Sampaikan juga tentang hadits budak perempuan yang ditanya oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Di mana Allah?” Dia menjawab, “Di langit.” Nabi lalu memerintahkan majikan budak itu untuk membebaskannya karena dia seorang perempuan yang beriman.</p>
<h2>Iman kepada Malaikat</h2>
<p>Tentang malaikat, sampaikan bahwa iman kepada malaikat adalah wajib dan membenarkan keberadaan mereka adalah suatu keharusan. Malaikat adalah hamba-hamba Allah yang mulia, yang bertasbih siang dan malam dengan tidak bosan, tidak menyombongkan diri dari ketaatan dan ibadah kepada Allah, bahkan mereka takut kepada-Nya.</p>
<p style="margin-top:6pt;">Sampaikan juga bahwa malaikat diciptakan dari cahaya. Mereka punya tugas-tugas yang mereka jalankan dengan Di antara mereka ada yang memikul ‘Arsy. Ada yang menjadi utusan-utusan antara Allah azza wa jalla. Ada yang mencatat amal dan menjaga catatan amal para hamba. Ada malaikat maut yang bertugas mencabut nyawa manusia jika telah sampai ajalnya. Ada malaikat penjaga gunung dan awan. Ada yang bertugas menghadiri majelis zikir dan ilmu, menghadiri salat lima waktu dan Jumat, menguatkan hati orang-orang beriman ketika perang dengan izin Allah, menenangkan dan memberi kabar gembira orang-orang yang beriman ketika akan meninggal, menyiksa orang-orang kafir sejak keluarnya ruh, mengangkat ruh ke langit, menanyai para hamba di alam kubur, memintakan ampunan untuk orang-orang yang beriman, dan mendoakan mereka masuk surga. sebaik-baiknya. dan para nabi.</p>
<p>Ada pula malaikat yang menjaga surga dan neraka. Penjaga neraka adalah malaikat yang keras dan kasar, yang tidak durhaka kepada Allah dan selalu menjalankan perintah-Nya.</p>
<p>Para malaikat tidak masuk rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar bernyawa. Para malaikat juga mendengarkan bacaan Al-Quran, dan banyak lagi tugas lain yang dibebankan kepada mereka.</p>
<p>Sampaikan pula bahwa malaikat mempersaksikan keesaan Allah dan kerasulan para Rasul-Nya. Malaikat juga menolong orang-orang yang beriman dengan izin Allah dan memberi syafaat orang-orang yang beriman dan bertauhid di hari kiamat dengan izin Allah azza wa jalla. Satu lagi, malaikat bukanlah perempuan sebagaimana yang disangka orang-orang kafir.</p>
<p>Keimanan pada malaikat bisa berimbas pada kebaikan akhlak. Tekankan pada diri anak, bahwa para malaikat selalu mengawasi kita, mencatat amal dan ucapan kita, sebagaimana firman Allah,</p>
<p>“Tidaklah satu ucapan pun diucapkan kecuali ada malaikat yang mengawasi dan mencatatnya.” (Al-Qof: 18)</p>
<h2>Iman kepada Kitab-kitab Allah</h2>
<p>Sampaikan kepada anak bahwa Allah azza wa jalla telah menurunkan sejumlah kitab kepada para Rasul-Nya, untuk diajarkan kepada umatnya. Di dalamnya Allah memerintahkan mereka untuk bertauhid, beriman kepada-Nya dan para rasul-Nya, dan menerangkan perkara-perkara yang halal dan haram. Terdapat pula kabar-kabar tentang orang-orang sebelum mereka, hukum yang berlaku di tengah-tengah mereka, serta dakwah kepada semua kebaikan dan peringatan dari semua kejelekan, kekafiran dan kesesatan.</p>
<p>Di antara kitab-kitab itu adalah Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa, Injil kepada Nabi Isa, dan Al-Quran kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.</p>
<h2>Iman kepada Para Rasul</h2>
<p>Beritahukan pada anak tentang para Nabi dan Rasul. Mereka diutus oleh Allah azza wa jalla kepada manusia untuk memerintahkan mereka agar bertauhid, memberi kabar gembira dengan surga bagi orang-orang yang taat di antara mereka, dan memperingatkan mereka dari syirik dan kemaksiatan.</p>
<p>Allah telah memilih di antara Rasul-Nya sebagai ulul azmi, yaitu Ibrahim, Nuh, Isa, Musa dan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.</p>
<p style="margin-top:6pt;">Ceritakanlah tentang kisah-kisah dan mukjizat yang dimiliki para Rasul. Iman kepada seluruh rasul dan nabi adalah wajib. Barangsiapa ingkar kepada salah satunya, maka telah kafir kepada semuanya.</p>
<p>Semua rasul mendakwahkan satu agama yaitu menyembah Allah semata, menjauhi setan dan kesyirikan. Allah berfirman,</p>
<p>“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus dalam setiap umat seorang rasul untuk menyeru kaumnya, ‘Sembahlah Allah saja dan jauhilah thaghut/setan.” (An-Nahl: 36)</p>
<p>Penutup para rasul itu adalah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, maka tidak ada rasul lagi setelah beliau.</p>
<h2>Iman kepada Hari Kiamat</h2>
<p>Perbanyaklah mengingatkan anak-anak pada hari kiamat. Bila anak mengetahui bahwa kelak akan ada perhitungan, pahala dan siksa, maka dia akan berbuat kebaikan dan menjauhi kejelekan.</p>
<p>Iman kepada hari akhir meliputi 3 hal,</p>
<p><strong>Pertama, </strong>mengimani adanya kebangkitan (ba’ts) yaitu dihidupkannya kembali orang-orang yang sudah mati tatkala ditiupkan sangkakala untuk kedua kalinya. Pada hari itu seluruh manusia bangkit untuk menghadap Rabb semesta alam.</p>
<p><strong>Kedua, </strong>mengimani adanya hisab (perhitungan) dan jaza’ (balasan). Seluruh amal perbuatan hamba akan dihisab dan diberi balasan.</p>
<p style="margin-top:6pt;"><strong>Ketiga, </strong>mengimani adanya surga dan neraka. Ceritakan pada anak tentang surga dan isinya, berupa kenikmatan yang kekal bagi penghuninya. Demikian juga neraka dan isinya yang disediakan bagi orang-orang kafir dan pendosa.</p>
<h2>Iman kepada Takdir</h2>
<p>Iman kepada takdir adalah wajib atas setiap muslim. Perkara-perkara yang berjalan dalam kehidupan ini semuanya telah ditakdirkan dan ditulis. Ajarilah anak tentang hal ini.</p>
<p>Ajarkan anak sebuah hadits yang artinya:</p>
<p>“Dan bila suatu musibah mengenai dirimu,maka jangan kamu katakan, ‘Seandainya aku lakukan ini dan ini.’ Tetapi katakanlah, ‘Qaddarallahu wa ma sya’a fa’ala’ (Allah telah takdirkan dan apa-apa yang Dia kehendaki Dia kerjakan).’ Sesungguhnya kata law (seandainya) akan membuka perbuatan setan.’” (Riwayat Muslim)</p>
<p>Ajarkan pada anak bahwa kebaikan dan kejelekan telah ditakdirkan. Demikian juga rezeki, telah ditakdirkan dan dibagi-bagi. Sampaikan bahwa yang memberi hidayah adalah Allah, dan bahwa penjagaan-penjagaan datangnya dari Allah. Ajal dan umur telah ditakdirkan, dan musibah telah ditulis dan ditakdirkan. Ajari anak agar ridha dengan ketentuan-ketentuan Allah azza wa jalla pada setiap keadaan.</p>
<p style="margin-top:6pt;">Bila anak sakit, terkena sesuatu, atau kehilangan sesuatu, maka beritahukan bahwa semua itu telah ditakdirkan.</p>
<p>Akan tetapi ingatkan juga bahwa Allah telah menciptakan sebab dan akibat, karena itu jangan lupa untuk melakukan sebab-sebab kebaikan. Wallahu a’lam</p>
<p><strong>Maraji’</strong>: <em>Tarbiyatul Abna’</em>, Bagaimana Nabi Mendidik Anak. Syaikh Musthofa Al-Adawi. Media Hidayah.</p>
<p>Majalah Nikah, Bina Anak Salih &#8211; Vol. 5, No. 6</p>
<p>sumber : <a href="www.kbtkitihya.wordpress.com" target="_blank">www.kbtkitihya.wordpress.com</a></div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ayulian.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ayulian.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ayulian.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ayulian.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ayulian.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ayulian.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ayulian.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ayulian.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ayulian.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ayulian.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ayulian.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ayulian.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ayulian.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ayulian.wordpress.com/108/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayulian.wordpress.com&amp;blog=6755621&amp;post=108&amp;subd=ayulian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayulian.wordpress.com/2009/06/01/mengajarkan-rukun-iman-pada-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7e162fc37d4763ef9a994a0e74d9caa2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Agar Anda Bahagia dengan Suami Anda</title>
		<link>http://ayulian.wordpress.com/2009/06/01/agar-anda-bahagia-dengan-suami-anda/</link>
		<comments>http://ayulian.wordpress.com/2009/06/01/agar-anda-bahagia-dengan-suami-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 07:21:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayulian</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARtikeL]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ayulian.wordpress.com/?p=105</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana cara menyenangkan suami anda, sehingga andapun berbahagia karenanya? Berikut ini adalah 37 (tigapuluh tujuh) poin yang bisa anda lakukan selaku seorang istri, sehingga suami anda berbahagia. Jangan membiarkan suami anda memandang dalam keadaan anda tidak menggembirakannya. Wanita yang paling baik adalah wanita yang selalu membuat suaminya bahagia. Hendaklah senyum itu senatiasa menghiasi bibirmu setiap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayulian.wordpress.com&amp;blog=6755621&amp;post=105&amp;subd=ayulian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Bagaimana cara menyenangkan suami anda, sehingga andapun berbahagia karenanya?</p>
<p align="justify">Berikut ini adalah 37 (tigapuluh tujuh) poin yang bisa anda lakukan selaku seorang istri, sehingga suami anda berbahagia.</p>
<ol>
<li>Jangan membiarkan suami anda memandang dalam keadaan anda tidak menggembirakannya. Wanita yang paling baik adalah wanita yang selalu membuat suaminya bahagia.</li>
<li>Hendaklah senyum itu senatiasa menghiasi bibirmu setiap anda dipandang oleh sang suami.<span id="more-105"></span></li>
<li>Perbanyaklah mencari keridhaan suami dengan mentaatinya, sejauh mana ketaatan anda kepada suami, sejauh itu pulalah dia merasakan cintamu kepadanya dan dia akan segera menuju keridhaanmu.</li>
<li>Pilihlah waktu yang tepat untuk meluruskan kesalahan suami.</li>
<li>Jadilah anda orang yang lapang dada, janganlah sekali-kali menyebut-nyebut kekurangan suami anda kepada orang lain.</li>
<li>Perbaikilah kesalahan suami dengan segala kemampuan dan kecintaan yang anda miliki, janganlah berusaha melukai perasaannya.</li>
<li>Janganlah memuji-muji laki-laki lain di hadapan suami kecuali sifat diniyah yang ada pada laki-laki tersebut.</li>
<li>Jangan engkau benarkan ucapan negatif dari orang lain tentang suamimu.</li>
<li>Upayakan untuk tampil di depan suamimu dengan perbuatan yang disenanginya dan ucapan yang disenanginya pula.</li>
<li>Berilah pengertian kepada suami anda agar dia menghormatimu dan saling menghormati dalam semua urusan.</li>
<li>Anda harus selalu merasa senang berkunjung kepada kedua orang tuanya.</li>
<li>Janganlah anda menampakkan kejemuan padanya, jika terjadi kekurangan materi Ingatlah bahwa apa yang ia berikan kepadamu sudah lebih dari cukup.</li>
<li>Biasakanlah anda tertawa bila ia tertawa, menangis dan bersedih jika ia bersedih. Karena bersatunya perasaan akan melahirkan perasaan cinta kasih.</li>
<li>Diam dan perhatikanlah jika ia berbicara.</li>
<li>Janganlah banyak mengingatkan bahwa anda pernah meminta sesuatu kepadanya. Bahkan jangan diingatkan kecuali jika anda tahu bahwa ia mudah untuk diingatkan.</li>
<li>Janganlah anda mengulangi kesalahan yang tidak disenangi oleh suami anda dan ia tidak suka melihatnya.</li>
<li>Jangan lupa bila anda melihat suami anda shalat sunnah di rumah, hendaknya anda berdiri dan ikut shalat dibelakangnya. Jika ia membaca, hendaknya anda duduk mendengarkannya.</li>
<li>Jangan berlebih-lebihan berbicara tentang angan-angan pribadi di depan suami, tetapi mintalah selalu agar ia menyebutkan keinginan pribadinya di depanmu.</li>
<li>Janganlah mendahulukan pendapatmu dari pendapatnya pada setiap masalah, baik yang kecil maupun yang besar. Hendaklah cintamu kepadanya mendorong anda mendahulukan pendapatnya.</li>
<li>Janganlah anda mengerjakan shaum sunnah kecuali dengan izinnya, dan jangan keluar rumah kecuali dengan sepengetahuannya.</li>
<li>Jagalah rahasia yang disampaikan kepadamu dan janganlah menyebarkannya sekalipun kepada kedua orang tuanya.</li>
<li>Hati-hati jangan sampai menyebut-nyebut bahwa anda lebih tinggi derajatnya dari derajat suami. Hal itu akan mengundang kebencian kepadamu.</li>
<li>Jika salah satu dari orang tuanya sakit atau kerabatnya, maka anda punya kewajiban untuk menjenguk bersamanya.</li>
<li>Sesuaikanlah peralatan rumah tangga anda dengan barang-barang yang disenangi suami anda.</li>
<li>Jangan sampai anda meninggalkan rumah meskipun sedang bertengkar dengannya.</li>
<li>Katakanlah kejemuan dan kebosananmu ketika ia sudah meninggalkan rumah.</li>
<li>Terimalah udzurnya ketika ia membatalkan janjinya untuk keluar bersamamu, karena mungkin ia terpaksa memenuhi panggilan orang yang datang kepadanya.</li>
<li>Hindari sifat cemburu, sesungguhnya cemburu adalah senjata penghancur.</li>
<li>Janganlah mengabaikan pemimpinmu (suami) dengan alasan bahwa ia telah menjadi suamimu.</li>
<li>Janganlah anda berbicara dengan sang suami, seakan-akan anda suci dan dia berdosa.</li>
<li>Jagalah perasaannya, jangan gembira ketika dia sedang sedih dan jangan menangis ketika dia gembira.</li>
<li>Perbanyaklah menyebut-nyebut keutamaan suami di hadapannya.</li>
<li>Perlihatkan kepada suamimu bahwa anda turut merasakan apa yang dirasakan sang suami tatkala ia tidak berhasil mencapai maksud dan tujuannya.</li>
<li>Perbaharuilah (tekad suami) ketika terjadi kegagalan.</li>
<li>Jauhilah sifat dusta karena hal itu akan menyakitkannya.</li>
<li>Ingatkanlah selalu pada suamimu bahwa anda tidak tahu (bagaimana nasib anda) seandainya anda tidak dipersunting olehnya.</li>
<li>Ucapkanlah rasa syukur dan terima kasih pada waktu ia memberikan sesuatu kepadamu.</li>
</ol>
<p align="justify">sumber : <a href="http://sobat-muda.com/" target="_blank">http://sobat-muda.com/</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ayulian.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ayulian.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ayulian.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ayulian.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ayulian.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ayulian.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ayulian.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ayulian.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ayulian.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ayulian.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ayulian.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ayulian.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ayulian.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ayulian.wordpress.com/105/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayulian.wordpress.com&amp;blog=6755621&amp;post=105&amp;subd=ayulian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayulian.wordpress.com/2009/06/01/agar-anda-bahagia-dengan-suami-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7e162fc37d4763ef9a994a0e74d9caa2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anak-Anak Mengikuti Perbuatan Baik yang Dilakukan Orangtua</title>
		<link>http://ayulian.wordpress.com/2009/05/30/anak-anak-mengikuti-perbuatan-baik-yang-dilakukan-orangtua/</link>
		<comments>http://ayulian.wordpress.com/2009/05/30/anak-anak-mengikuti-perbuatan-baik-yang-dilakukan-orangtua/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 May 2009 03:11:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayulian</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARtikeL]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ayulian.wordpress.com/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[Seorang anak yang melihat ayahnya selalu berzikir dan bertahlil, bertahmid, dan bertasbih, maka dia pun akan mudah untuk mengucapkan: Laa ilaaha illalloh, Subhanallah, dan Allahu akbar. Begitu pula seorang anak yang dibiasakan untuk mengirim sedekah pada malam hari karena diutus oleh orangtuanya kepada fakir miskin secara rahasia, jelas akan berbeda dengan seorang anak yang disuruh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayulian.wordpress.com&amp;blog=6755621&amp;post=103&amp;subd=ayulian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Seorang anak yang melihat ayahnya selalu berzikir dan bertahlil, bertahmid, dan bertasbih, maka dia pun akan mudah untuk mengucapkan: <em>Laa ilaaha illalloh, Subhanallah</em>, dan <em>Allahu akbar.</em></div>
<div>Begitu pula seorang anak yang dibiasakan untuk mengirim sedekah pada malam hari karena diutus oleh orangtuanya kepada fakir miskin secara rahasia, jelas akan berbeda dengan seorang anak yang disuruh oleh orangtuanya pada malam hari untuk membeli narkoba atau rokok. Seorang anak yang selalu melihat ayahnya berpuasa senin dan kamis, ikut serta dalam shalat berjama’ah di masjid jelas akan berbeda dengan seorang anak yang melihat ayahnya berada di tempat perjudian atau bioskop serta tempat-tempat hiburan yang lainnya.Anda akan melihat seorang anak yang selalu mendengarkan suara adzan mengulang-ngulang lantunan adzan, dan Anda akan melihat seorang anak yang selalu mendengarkan lagu yang dilantunkan orangtuanya, melantunkannya pula.</div>
<p>Sungguh indah andaikata seorang ayah adalah pribadi yang selalu berbuat baik kepada kedua orangtuanya dengan berdo’a untuk mereka dan memohon ampunan kepada Allah bagi keduanya, selalu menanyakan keadaannya dan tenang berada bersama keduanya, selalu memenuhi kebutuhan keduanya dan memperbanyak berdo’a dengan ungkapan:</p>
<p><em>Robbigh firli waliwali dayya</em><br />
<em>”Ya Allah ampunilah aku dan kedua orangtuaku”</em></p>
<p>Dia akan selalu mengucapkan:<br />
<em>Robbbirhamhuma kama robbayani shoghiro</em><br />
<em>“Ya Allah, kasihanilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidikku di waktu kecil”</em></p>
<p><span id="more-103"></span>Dia pun berziarah ke makam kedua orangtuanya, bersedekah untuk keduanya, menghubungkan kekerabatan dengan orang-orang yamg dekat dengan keduanya, juga memberi kepada orang-orang yang selalu diberi oleh keduanya.</p>
<p>Jika seorang anak melihat perangai orangtuanya yang sedemikain, maka dengan izin Allah anak itu akan meniru apa yang dilakukan orangtuanya. Dia akan selalu memohon kepada Allah ampunan bagi kedua orangtuanya, dan selalu melakukan sesuatu yang biasa dilakukan oleh kedua orangtunya kepada kakek dan neneknya.</p>
<p>Seorang anak yang dididik shalat oleh orangtuanya jelas akan berbeda dengan seorang anak yang biasa diajarkan menonton film, musik atau mendengarkan lagu.</p>
<p>Sesungguhnya jika seorang anak melihat kedua orangtuanya melakukan shalat malam dengan menangis karena takut kepada Allah juga dengan membaca Al-Qur’an, niscaya dia akan berfikir kenapa ayahnya menangis? Kenapa dia melakuakn shalat? Dan kenapa dia meninggalkan tempat tidur yang empuk lagi hangat? Kenapa dia memilih air wudhu yang dingin ?!</p>
<p>Kenapa dia meninggalkan tempat tidurnya dengan memilih memohon kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap?</p>
<p>Semua pertanyaan ini akan selalu tertanam di dalam pikiran seorang anak dan selalu memikirkannya yang pada akhirnya si anak dengan izin Allah akan meniru apa saja yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.</p>
<p>Demikian pula anak perempuan yang melihat ibunya selalu berhijab dan menutup diri dari laki-laki lain, dia telah dihiasi dengan rasa malu dan sikap menjaga kehormatan, kesucian dirinya telah menjadikan dirinya mulia. Jika ibunya demikian niscaya anaknya juga akan belajar menanamkan rasa malu, menjaga kehormatan dan kesucian dari ibunya. Sedangkan anak perempuan yang melihat ibunya selalu berhias diri di depan setiap laki-laki, bersalaman, dan bercampur baur, tertawa dan tersenyum dengan laki-laki lain bahkan berdansa dengan mereka, maka anaknya pun akan belajar yang demikian itu darinya.</p>
<p>Maka bertakwalah kalian wahai para ibu dan ayah! Jagalah anak–anak kalian, dan jadilah kalian sebagai suri tauladan bagi mereka dengan perangai yang baik dan tabiat yang mulia. Sebelum itu semua, jadilah kalian sebagai suri tauladan dengan memegang teguh agama Allah juga Nabi-Nya.</p>
<p><strong>Maroji’:</strong><br />
<em>Ensiklopedi Pendidikan Anak</em> hal 38 (<em>Fiqh Tarbiyatil Abnaa’ wa Thaa-ifatun min Nashaa-ihil Athibba’</em>), Mushthafa al-’Adawi</p>
<p>sumber : <a href="www.kbtkitihya.wordpress.com" target="_blank">www.kbtkitihya.wordpress.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ayulian.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ayulian.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ayulian.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ayulian.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ayulian.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ayulian.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ayulian.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ayulian.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ayulian.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ayulian.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ayulian.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ayulian.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ayulian.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ayulian.wordpress.com/103/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayulian.wordpress.com&amp;blog=6755621&amp;post=103&amp;subd=ayulian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayulian.wordpress.com/2009/05/30/anak-anak-mengikuti-perbuatan-baik-yang-dilakukan-orangtua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7e162fc37d4763ef9a994a0e74d9caa2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Esok, Keadaan Kita Lebih Bahagia</title>
		<link>http://ayulian.wordpress.com/2009/04/21/esok-keadaan-kita-lebih-bahagia/</link>
		<comments>http://ayulian.wordpress.com/2009/04/21/esok-keadaan-kita-lebih-bahagia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Apr 2009 02:47:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayulian</dc:creator>
				<category><![CDATA[AkhLaq]]></category>
		<category><![CDATA[ARtikeL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ayulian.wordpress.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Terkadang berbagai peristiwa pahit dalam hidup meninggalkan bekas kegetiran yang mendalam, hingga seakan-akan menembus ruas-ruas tulang rusuk. Akibatnya segala harapan dan cita berubah menjadi mata air yang kering tak mampu menyiram jiwa dengan berbagai inspirasi dan semangat berkreasi, apalagi harus membersihkan luka yang teramat pahit itu. Semua yang kita rasakan ibarat angina yang kering pula, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayulian.wordpress.com&amp;blog=6755621&amp;post=86&amp;subd=ayulian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Terkadang berbagai peristiwa pahit dalam hidup meninggalkan bekas kegetiran yang mendalam, hingga seakan-akan menembus ruas-ruas tulang rusuk. Akibatnya segala harapan dan cita berubah menjadi mata air yang kering tak mampu menyiram jiwa dengan berbagai inspirasi dan semangat berkreasi, apalagi harus membersihkan luka yang teramat pahit itu. Semua yang kita rasakan ibarat angina yang kering pula, tidak memberi kepada kita kecuali sekadar tiupan angin yang dingin, kaku disertai debu. Dan kata-kata bagaikan pisau meskipun seandainya tidak membunuh, tetapi ia menakutkan, lalu apakah karenanya kita membuka diri untuk setiap penghina dan pencela?</div>
<p>Bersikap ridha kepada al-Qadar merupakan rukun dari beberapa rukun yang tegak berdiri di atas keimanan kita kepada Allah, dan ia pun merupakan suatu sikap yang harus ada pada saat terjadinya taqdir baik dan buruk, maka sesungguhnya bersikap sabar itu adalah wajib dan lebih dituntut lagi setelah datangnya ketentuan taqdir tersebut.<span id="more-86"></span></p>
<p>al-Hasan al-Bashri mengatakan, “Bersikap ridha itu adalah suatu kemuliaan, namun kesabaran itu adalah sandarannya seorang mukmin.” Terlebih bila dia ingat pahala orang-orang yang bersabar di sisi Allah. Sesuai dengan perkataan Ibrahim at-Tamimi, ”Tidaklah seorang hamba yang telah Allah berikan orang kepadanya kesabaran atas penyakit, bala dan musibah, melainkan ia sebenarnya telah mendapatkan yang lebih utama dari yang telah didapatkan oleh seseorang setelah keimanannya kepada Allah.”</p>
<p>Ummu Darda menambahkan, ”Sesungguhnya orang-orang yang ridha dengan keputusan Allah adalah orang-orang yang bila diputuskan sesuatu oleh Allah mereka ridha akan keputusan tersebut. Maka di Surga kelak mereka akan mendapat rumah-rumah yang diidam-idamkan oleh para syuhada pada hari Kiamat.”</p>
<p>Sabar itu bagaikan investasi di Surga sebagaimana dikatakan oleh al-Hasan al-Bashri, ”Tidaklah Allah memberikannya kecuali kepada orang yang Allah muliakan di atas kesabaran.”</p>
<p>Syuraih al-Qadhi berkata, ”Sesungguhnya aku tertimpa satu musibah, maka aku memuji Allah atas musbiah tersebut sebanyak empat kali. Pertama, aku memuji Allah karena musibah tersebut tidak terjadi lebih besar dari keadaannya. Kedua, aku memuji-Nya karena telah menganugerahiku kesabaran atas musibah. Ketiga, aku memuji-Nya karena Dia telah taufiq kapadaku untuk sadar bahwa segala masalah dan persoalan akan dikembalikan kepada-Nya. Keempat, aku memuji-Nya karena Allah tidak menjadikan musibah tersebut ada pada urusan agamaku.”</p>
<p>Dalam Shahihain ada sebuah riwayat dari Rasulullah bahwa beliau bersabda, ”Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, dan kesulitan hingga duri yang menusuknya kecuali Allah akan menghapuskan dosa-dosanya.”</p>
<p>Adakah perkara yang dapat menyamai kesabaran dalam memberikan pengaruh yang mulia kepada pelakunya baik di dunia maupun di akhirat? Maka cukuplah bagi mereka bahwa Allah telah menjanjikan kepada mereka dengan sesuatu yang tidak diberikan kepada selain mereka. Juga Allah telah menyediakan bagi mereka kedudukan yang tidak diberikan kepada selain mereka.</p>
<p>”Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. az-Zumar : 10)</p>
<p>Janganlah kita lupa, bahwa Allah mencintai keadilan dan memang Dia Yang Maha Adil di antara yang adil. Apakah sama di sisi-Nya antara orang yang hidupnya senang –harapan dan keinginannya- selalu terwujud dengan seorang mukmin yang hidupnya penuh derita dengan senantiasa menghadapi pahit getir dan kerasnya kehidupan.</p>
<p>Mungkin saja kesenangan itu terbunuh dalam hati kita dan panasnya api kehidupan telah membakar hangus harapan kita. Sementara bagi orang lain telah terwujud berbagai cita-cita, harapan dan kebahagiaan yang didambakan oleh mereka. Namun bagi kita, dengan kesabaran, keimanan dan rasa percaya kita dan bergantung hanya kepada Allah, mungkin kehidupan kita esok hari jauh lebih baik dan lebih bahagia. Kebahagiaan hakiki dan kekal abadi, tidak akan hangus oleh kobaran api kehidupan atau porak poranda ditiup angin dunia.</p>
<p>Kemudian, apabila kehidupan di sekitar kita selalu berjalan buruk, apakah dengan serta merta kita turut berlaku buruk? Dengan menampakkan wajah yang masam dan tidak mau tersenyum, seolah-olah kita ingin memperlihatkan kepada orang bahwa kita sedang dirundung derita.</p>
<p>Masih banyak sebenarnya di sekitar kehidupan ini, jiwa-jiwa yang dirundung derita dan penyakit fisik yang lebih parah dari yang kita rasakan. Namun tetap saja kita melihat mereka tersenyum manis dan mampu berbicara dengan kalimat penuh harapan yang menanamkan harapan bagi yang mendengarnya. (Abu Fikri)</p>
<p>Sumber :<br />
Wa Akhiran Jaa-al Faraj Qashash wa Tajarib Waaqi’iyyah, Syaikh Ahmad bin Salim ba Duwailan</p>
<p><a href="http://sobat-muda.com/" target="_blank">http://sobat-muda.com/</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ayulian.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ayulian.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ayulian.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ayulian.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ayulian.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ayulian.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ayulian.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ayulian.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ayulian.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ayulian.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ayulian.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ayulian.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ayulian.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ayulian.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayulian.wordpress.com&amp;blog=6755621&amp;post=86&amp;subd=ayulian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayulian.wordpress.com/2009/04/21/esok-keadaan-kita-lebih-bahagia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7e162fc37d4763ef9a994a0e74d9caa2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Istri Penyejuk Mata dan Hati Suami</title>
		<link>http://ayulian.wordpress.com/2009/04/20/istri-penyejuk-mata-dan-hati-suami/</link>
		<comments>http://ayulian.wordpress.com/2009/04/20/istri-penyejuk-mata-dan-hati-suami/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2009 09:11:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayulian</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARtikeL]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ayulian.wordpress.com/2009/04/20/istri-penyejuk-mata-dan-hati-suami/</guid>
		<description><![CDATA[Istri memegang peranan yang sangat penting dalam istana keluarganya. Maka ia dituntut untuk memahami peranan tersebut lalu mengaplikasikannya dalam kehidupan berkeluarga. Menjadi Istri yang menyejukkan saat dipandang, patuh ketika disuruh melakukan hal-hal yang ma’ruf, memelihara kehormatan diri dan harta ketika suami pergi, niscaya menjadi dambaan setiap muslimah. Bagaimana tuk merealisasikan hal tersebut ? 1. Takwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayulian.wordpress.com&amp;blog=6755621&amp;post=84&amp;subd=ayulian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Istri memegang peranan yang sangat penting dalam istana keluarganya. Maka ia dituntut untuk memahami peranan tersebut lalu mengaplikasikannya dalam kehidupan berkeluarga. Menjadi Istri yang menyejukkan saat dipandang, patuh ketika disuruh melakukan hal-hal yang ma’ruf, memelihara kehormatan diri dan harta ketika suami pergi, niscaya menjadi dambaan setiap muslimah. Bagaimana tuk merealisasikan hal tersebut ?<span id="more-84"></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;">1. Takwa kepada Allah dan menjauhi maksiat</span></p>
<p>Bila engkau ingin kesengsaraan bersarang di rumahmu dan bertunas, maka bermaksiatlah kepada Allah. Sesungguhnya kemaksiatan menghancurkan negeri dan menggoncang kerajaan. Oleh karena itu jangan engkau goncangkan rumahmu dengan berbuat maksiat kepada Allah.</p>
<p>Wahai hamba Allah……..jagalah Allah maka Dia akan menjagamu beserta keluarga dan rumahmu. Sesungguhnya ketaatan akan mengumpulkan hati dan mempersatukannya, sedangkan kemaksiatan akan mengoyak hati dan menceraiberaikan keutuhannya.</p>
<p>Karena itulah, salah seorang wanita shalihah jika mendapatkan sikap keras dan berpaling dari suaminya, ia berkata:”Aku mohon ampun kepada Allah….itu terjadi karena perbuatan tanganku (kesalahanku)….”Maka hati-hatilah wahai saudariku muslimah dari berbuat maksiat, khususnya:</p>
<p>* Meninggalkan shalat atau mengakhirkannya atau menunaikannya dengan cara yang tidak benar.</p>
<p>* Duduk di majlis ghibah dan namimah, berbuat riya dan sum’ah.</p>
<p>* Menjelekkan dan mengejek orang lain. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang briman janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang menolok-olokkan) dan janganlah wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan”(QS. Al Hujurat: 11).</p>
<p>* Keluar menuju pasar tanpa kepentingan yang sangat mendesak dan tanpa didampingi mahram. Rasulullah bersabda:“Negeri yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya dan negeri yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasarnya”(HR. Muslim).</p>
<p>* Mendidik anak dengan pendidikan barat atau menyerahkan pendidikan anak kepada para pambantu dan pendidik-pendidik yang kafir.</p>
<p>* Meniru gaya wanita-wanita barat. Rasulullah bersabda:”Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka”(HR. Imam Ahmad dan Abu Daud serta dishahihkan Al-Albany).</p>
<p>* Membiarkan suami dalam kemaksiatannya.</p>
<p>* Tabarruj (pamer kecantikan)</p>
<p><span style="color:#0000ff;">2. Berupaya mengenal dan memahami suami</span></p>
<p>Hendaknya engkau berupaya memahami suamimu. Apa-apa yang ia sukai, berusahalah memenuhinya dan apa-apa yang ia benci, berupayalah untuk menjauhinya dengan catatan selama tidak dalam perkara maksiat kepada Allah karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah ‘Azza Wajalla.</p>
<p><span style="color:#0000ff;">3. Ketaatan yang nyata kepada suami dan bergaul dengan baik</span></p>
<p>Sesungguhnya hak suami atas istrinya itu besar. Rasulullah bersabda:“Seandainya aku boleh memerintahkanku seseorang sujud kepada orang lain niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya”(HR. Imam Ahmad dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albany).</p>
<p>Hak suami yang pertama adalah ditaati dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah dan baik dalam bergaul dengannya serta tidak mendurhakainya. Rasulullah bersabda:“Dua golongan yang shalatnya tidak akan melewati kepalanya, yaitu budak yang lari dari tuannya hingga ia kembali dan istri yang durhaka kepada suaminya hingga ia kembali”(HR. Thabrani dan Hakim, dishahihkan oleh Al-Albany).</p>
<p>Ketahuilah, engkau termasuk penduduk surga dengan izin Allah, jika engkau bertakwa kepada Allah dan taat kepada suamimu. Dengan ketaatanmu pada suami dan baiknya pergaulanmu terhadapnya, engkau akan menjdai sebaik-baik wanita (dengan izin Allah).</p>
<p><span style="color:#0000ff;">4. Bersikap qanaah (merasa cukup)</span></p>
<p>Kami meninginkan wanita muslimah ridha dengan apa yang diberikan untuknya baik itu sedikit ataupun banyak.</p>
<p>Maka janganlah ia menuntut di luar kesanggupan suaminya atau meminta sesuatu yang tidak perlu. Renungkanlah wahai saudariku muslimah, adabnya wanita salaf radhiallahu ‘anhunna…Salah seorang dari mereka bila suaminya hendak keluar rumah ia mewasiatkan satu wasiat kepadanya. Apakah itu??? Ia berkata pada suaminya:“Hati-hatilah engkau wahai suamiku dari penghasilan yang haram, karena kami bisa bersabar dari rasa lapar namun kami tidak bisa bersabar dari api neraka…”</p>
<p><span style="color:#0000ff;">5. Baik dalam mengatur urusan rumah tangga</span>, seperti mendidik anak-anak dan tidak menyerahkannya pada pembantu, menjaga kebersihan rumah dan menatanya dengan baik dan menyiapkan makan pada waktunya.</p>
<p>Termasuk pengaturan yang baik adalah istri membelanjakan harta suaminya pada tempatnya (dengan baik), maka ia tidak berlebih-lebihan dalam perhiasan dan alat-alat kecantikan.</p>
<p><span style="color:#0000ff;">6. Baik dalam bergaul dengan keluarga suami dan kerabat-kerabatnya</span>, khususnya dengan ibu suami sebagai orang yang paling dekat dengannya.</p>
<p>Wajib bagimu untuk menampakkan kecintaan kepadanya, bersikap lembut, menunjukkan rasa hormat, bersabar atas kekeliruannya dan engkau melaksanakan semua perintahnya selama tidak bermaksiat kepada Allah semampumu.</p>
<p><span style="color:#0000ff;">7. Menyertai suami dalam perasaannya dan turut merasakan duka cita dan kesedihannya</span>.</p>
<p>Jika engkau ingin hidup dalam hati suamimu, maka sertailah ia dalam duka cita dan kesedihannya. Renungkanlah wahai saudariku kedudukan Ummul Mukminin, Khadijah radhiallahu ‘anha, dalam hati Rasulullah walaupun ia telah meninggal dunia.. Kecintaan beliau kepada Khadijah tetap bersemi sepanjang hidup beliau, kenangan bersama Khadijah tidak terkikis oleh panjangnya masa. Bahkan terus mengenangnya dan bertutur tentang andilnya dalam ujian, kesulitan dan musibah yang dihadapi. Seorangpun tidak akan lupa perkataannya yang masyur sehingga menjadikan Rasulullah merasakan ketenangan setelah terguncang dan merasa bahagia setelah bersedih hati ketika turun wahyu pada kali pertama:” Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Karena sungguh engkau menyambung silaturahmi, menaggung orang lemah, menutup kebutuhan orang yang tidak punya dan engkau menolong setiap upaya menegakkan kebenaran”.(HR. Mutafaq alaihi, Bukhary dan Muslim).</p>
<p><span style="color:#0000ff;">8. Bersyukur (berterima kasih) kepada suami atas kebaikannya dan tidak melupakan keutamaannya</span>.</p>
<p>Wahai istri yang mulia! Rasa terima kasih pada suami dapat kau tunjukkan dengan senyuman manis di wajahmu yang menimbulkan kesan di hatinya, hingga terasa ringan baginya kesulitan yang dijumpai dalam pekerjaannya. Atau engkau ungkapkan dengan kata-kata cinta yang memikat yang dapat menyegarkan kembali cintamu di hatinya. Atau memaafkan kesalahan dan kekurangannya dalam menunaikan hak-hakmu dengan membandingkan lautan keutamaan dan kebaikannya kepadamu.</p>
<p><span style="color:#0000ff;">9. Menyimpan rahasia suami dan menutupi kekurangannya (aibnya)</span>.</p>
<p>Istri adalah tempat rahasia suami dan orang yang paling dekat dengannya serta paling tahu kekhususannya. Bila menyebarkan rahasia merupakan sifat yang tercela untuk dilakukan oleh siapapun, maka dari sisi istri lebih besar dan lebih jelek lagi. Saudariku, simpanlah rahasia-rahasia suamimu, tutuplah aibnya dan jangan engkau tampakkan kecuali karena maslahat yang syar’I seperti mengadukan perbuatan dhalim kepada Hakim atau Mufti atau orang yang engkau harapkan nasehatnya.</p>
<p><span style="color:#0000ff;">10. Kecerdasan dan kecerdikan serta berhati-hati dari kesalahan</span>.</p>
<p>Termasuk kesalahan adalah: Seorang istri menceritakan dan menggambarkan kecantikan sebagian wanita yang dikenalnya kepada suaminya. Padahal Rasulullah telah melarang hal itu dalam sabdanya:”Janganlah seorang wanita bergaul dengan wanita lain lalu mensifatkan wanita itu kepada suaminya sehingga seakan-akan suaminya melihatnya”(HR. Bukhary dalam An-Nikah).</p>
<p>Diambil dari : Rumah tangga tanpa problema, Syaikh Mazin Bin Abdul Karim Al- Farih.</p>
<p>“Untuk para istri yang berhasrat menjadi penyejuk hati dan mata suaminya. Semoga Allah memeliharamu dalam naungan kasih sayang dan rahmatNya. Allohumma Aaamiin.”</p>
<p>sumber : <a href="http://andhiena.multiply.com/" target="_blank">http://andhiena.multiply.com/</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ayulian.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ayulian.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ayulian.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ayulian.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ayulian.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ayulian.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ayulian.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ayulian.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ayulian.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ayulian.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ayulian.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ayulian.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ayulian.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ayulian.wordpress.com/84/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayulian.wordpress.com&amp;blog=6755621&amp;post=84&amp;subd=ayulian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayulian.wordpress.com/2009/04/20/istri-penyejuk-mata-dan-hati-suami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7e162fc37d4763ef9a994a0e74d9caa2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wisata Keluarga Paling Istimewa</title>
		<link>http://ayulian.wordpress.com/2009/04/18/wisata-keluarga-paling-istimewa/</link>
		<comments>http://ayulian.wordpress.com/2009/04/18/wisata-keluarga-paling-istimewa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Apr 2009 03:16:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayulian</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARtikeL]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ayulian.wordpress.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[Majelis ilmu adalah sebuah ketenangan tersendiri, didalamnya terlihat banyak pancaran energi positif, di dalamnya pula terkandung lautan wawasan yang membuat seorang datang dalam keadaan hampa menjadi keluar dengan keadaan bernyawa. Bagi para perindunya, majelis ilmu merupakan sebuah rihlah jiwa, tempat rekreasi bagi hati, dan sebuah sarana tamasya untuk memahami nilai investasi yang tak pernah habis. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayulian.wordpress.com&amp;blog=6755621&amp;post=80&amp;subd=ayulian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><span>Majelis ilmu adalah sebuah ketenangan tersendiri, didalamnya terlihat banyak pancaran energi positif, di dalamnya pula terkandung lautan wawasan yang membuat seorang datang dalam keadaan hampa menjadi keluar dengan keadaan bernyawa. Bagi para perindunya, majelis ilmu merupakan sebuah rihlah jiwa, tempat rekreasi bagi hati, dan sebuah sarana tamasya untuk memahami nilai investasi yang tak pernah habis.</span></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;" align="justify"><span>Benarlah sebuah hadits yang menyebutkan bahwasanya, <em>“Barangsiapa yang menapaki suatu jalan dalam rangka mencari ilmu syar’i maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke Surga” </em>(HR. Ibnu Majah dan Abu Dawud, dishahihkan oleh Asy Syaikh Albani). Belumlah sampai kita kedalam surga yang dinanti, belumlah pula tapakan kaki kita jauh melampaui para pencari ilmu yang lebih gigih. Namun sungguh sebuah keindahan bila kita mengamati lebih jauh lagi dalam sebuah majelis ilmu.<span id="more-80"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;" align="justify"><span>Majelis ilmu merupakan sebuah sarana wisata keluarga tanpa biaya namun penuh daya guna. Seorang abah (bapak) bersama anaknya menyimak lebih dalam sebuah paparan dan penjelasan dari sang da’i, diujung sana terlihat seorang ummahat khusyuk mengajak anak wanitanya yang dalam gendongan untuk tenang. Sebuah ketentraman jiwa bagi siapapun yang melihatnya, dikala sang anak meminta minum, maka si abah dengan tas ransel besarnya berisi baju salinan untuk si bayi yang bersama umminya secara sabar membukakan bungkusan biskuit serta segelas air mineral yang dibeli sebelum berangkat wisata. Seorang ibu sedang mengocok air susu dalam botol untuk disuguhkan ke bibir sang bayi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;" align="justify"><span>Sungguh sebuah pemandangan yang indah, pemandangan yang penuh ketenangan dibandingkan sekeluarga justru lebih suka ikut pawai demonstrasi. Pawai yang ketika pergi dengan biaya sendiri, sampai di lokasi hanya berdiri di bawah terik matahari, dan pulangnya tak dapat apapun melainkan rasa lelah tak terperi. Itulah mengapa majelis ilmu selalu ramai dengan keluarga-keluarga baru. Sebab dikala sang anak lelah dan terasa mengantuk, maka sang ayah pun melipat kakiknya agar si anak bisa tertidur di paha ayahnya. Disaat si anak bermain dengan anak lainnya, dan suasana mulai gaduh, maka sang ayah mencari apakah sang anak ada di kerumunan gaduh itu. Lantas ayah menariknya dan di dudukkan kembali dengan tenang untuk kembali menyimak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;" align="justify"><span>Sebuah bentuk nilai estetika yang tidak dapat dilukiskan diatas kanvas secara abstraksi maupun realisme alirannya. Itu adalah sebuah ketenangan jiwa dan sebuah ketentraman. Terkadang repot memang menghingapi, namun untuk berburu warisan yang nilai jualnya tak terhingga, siapapun rela untuk mengejarnya. Bagaimana jika kiranya dikatakan, diujung sana ada harta terpendam bernilai jutaan rupiah. Tentulah semua orang berhambur untuk mengejarnya. Karena apa? Karena seseorang melihat bentuknya secara nyata, namun apabila telah diraih, tak jarang harta itu habis tak tersisa tanpa bekas. Namun ilmu tidak, tak ada kata habis, karena itu adalah harta warisan termahal. Itulah mengapa Rasulullah menegaskan, <em>“Ilmu adalah warisan para Nabi, para Nabi tidaklah mewariskan dinar ataupun dirham, akan tetapi mewariskan ilmu, barangsiapa yang mengambilnya maka telah mengambil bagian yang banyak”</em>. Ditambahkan lagi oleh sebuah nasehat emas dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, </span><em>“Ilmu itu lebih baik daripada harta, karena ilmu akan menjagamu sementara harta harus engkau jaga. Ilmu akan terus bertambah dan berkembang dengan diamalkan sementara harta akan terkurangi dengan penggunaan. Dan mencintai seorang yang berilmu adalah agama yang dipegangi. Ilmu akan membawa pemiliknya untuk berbuat taat selama hidupnya dan akan meninggalkan nama yang harum setelah matinya. Sementara orang yang memiliki harta akan hilang seiring dengan hilangnya harta. Pengumpul harta itu seakan telah mati padahal sebenarnya dia masih hidup. Sementara orang yang ber<span class="hilite1">ilmu</span> akan tetap hidup sepanjang masa. Jasad-jasad mereka telah tiada, namun mereka tetap ada di hati manusia.”</em> (dinukil dari Min Washaya As-Salaf, hal. 13-14).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;" align="justify">Maka untukmu para ayah dan ibu, hendaklah menjadikan sebuah sarana wisata baru mereka ialah dengan duduk di majelis ilmu, bukan berhamburan menuju tempat penuh kemaksiatan sehingga tersajilah pemandangan bagi keluarga sesuatu yang diharamkan. Menuju majelis ilmu adalah sebuah tempat yang senantiasa penuh dengan pilihan jitu, repot sedikit tapi menghasilkan manfaat banyak. Bersabarlah, semangatlah, dan beristiqomahlah. Semoga Allah membalas semua langkah kaki kita yang ditujukan untuk mengambil warisan para Nabi itu, <em>wallahu ‘alam bi shawwab..</em></p>
<table class="contentpaneopen" border="0">
<tbody>
<tr>
<td colspan="2" width="70%" align="left" valign="top"><span class="small">Written by Ummu Abdillah </span></td>
</tr>
<tr>
<td class="createdate" colspan="2" valign="top">Tuesday, 17 February 2009</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;" align="justify"><em>sumber :</em><a href="http://sobat-muda.com/" target="_blank"> http://sobat-muda.com/</a><em><br />
</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ayulian.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ayulian.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ayulian.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ayulian.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ayulian.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ayulian.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ayulian.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ayulian.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ayulian.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ayulian.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ayulian.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ayulian.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ayulian.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ayulian.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayulian.wordpress.com&amp;blog=6755621&amp;post=80&amp;subd=ayulian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayulian.wordpress.com/2009/04/18/wisata-keluarga-paling-istimewa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7e162fc37d4763ef9a994a0e74d9caa2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Makanan Sehat untuk Bayi Sehat</title>
		<link>http://ayulian.wordpress.com/2009/04/18/makanan-sehat-untuk-bayi-sehat/</link>
		<comments>http://ayulian.wordpress.com/2009/04/18/makanan-sehat-untuk-bayi-sehat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Apr 2009 03:08:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayulian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ayulian.wordpress.com/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[Bayi yang baru dilahirkan atau suatu saat dalam kehidupannya memiliki kondisi kesehatan/klinis yang berbeda-beda. Ada yang dilahirkan atau pada suatu saat mengalami gangguan kesehatan seperti gangguan pencernaan, gizi buruk, gangguan jantung, menjalani operasi tertentu, infeksi berat dan lain-lain. Pada keadaan tersebut, bayi harus diberikan diet khusus yang disesuaikan dengan keadaan kilnis dan penyakit yang dideritanya.Bayi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayulian.wordpress.com&amp;blog=6755621&amp;post=77&amp;subd=ayulian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bayi yang baru dilahirkan atau suatu saat dalam kehidupannya memiliki kondisi kesehatan/klinis yang berbeda-beda. Ada yang dilahirkan atau pada suatu saat mengalami gangguan kesehatan seperti gangguan pencernaan, gizi buruk, gangguan jantung, menjalani operasi tertentu, infeksi berat dan lain-lain. Pada keadaan tersebut, bayi harus diberikan diet khusus yang disesuaikan dengan keadaan kilnis dan penyakit yang dideritanya.Bayi yang tidak sedang mengalami keadaan klinis yang dimaksud disebut bayi sehat.</p>
<p>Secara umum makanan bayi sehat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu makanan utama yaitu ASI/PASI (pengganti ASI) dan makanan pelengkap yang diberikan ketika bayi telah mencapai umur dan berat badan tertentu yang terdiri dari buah, biskuit, makanan lumat (bubur susu), dan makan lembek (nasi tim). Makanan pelengkap ini diberikan ketika ASI/PASI tidak lagi mencukupi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan bayi sehingga harus ditambah dari sumber makanan yang lain.<span id="more-77"></span></p>
<p>MAKANAN UTAMA</p>
<p>Telah lazim diketahui makanan paling baik bagi bayi sehat adalah air susu ibu (ASI) terutama pada bulan-bulan pertama setelah dilahirkan. ASI mencukupi kebutuhan gizi bayi sehat sampai umur 6 bulan sehingga ibu dianjurkan untuk memberikan ASI ekslusif sampai bayi berumur 6 bulan.</p>
<p>Namun adakalanya bayi yang sehat terhalang untuk mendapatkan ASI karena sesuatu dan lain sebab baik karena faktor ibu atau bayi itu sendiri sehingga pemberian ASI tidak memungkinkan sehingga harus diganti dengan makanan lain pengganti ASI. Makanan pengganti ini disebut PASI. PASI diformulasi sesuai dengan kondisi dan kebutuhan bayi, di antaranya fungsi saluran pencernaan yang masih terus berkembang, umur, berat badan, ada tidaknya alergi dan lain-lain. Sekarang ini telah ada PASI yang formulanya sangat mirip dengan ASI walaupun tetap tidak bisa menggantikan ASI dengan segala kelebihannya.</p>
<p>ASI</p>
<p>ASI merupakan makanan yang ideal untuk bayi terutama pada bulan-bulan pertama. Air susu ibu mengandung semua zat gizi untuk membangun dan menyediakan energi dalam susunan yang diperlukan, tidak memberatkan fungsi saluran pencernaan (lambung dan usus) dan ginjal, menghasilkan pertumbuhan yang optimal, memiliki berbagai zat anti infeksi, mengurangi kemungkinan terjadinya dermatitis atopik (radang kulit yang tidak jelas penyebabnya), serta memperpanjang jarak kelahiran anak. Keuntungan lain menyusui adalah murah harganya, tersedia pada suhu yang ideal dan tidak perlu dipanaskan terlebih dahulu, selalu segar dan bebas pencemaran kuman, memperkuat ikatan batin antara ibu dan anak, serta mempercepat pengembalian besarnya rahim pada bentuk dan ukuran sebelum hamil.</p>
<p>Yang harus diperhatikan saat menyusui adalah bayi sedang bangun dan mau minum. Bayi akan bereaksi jika puting payudara ditempelkan pada mulutnya. Tetapi jika bayi menolak berarti ia belum mau minum dan tidak perlu dipaksakan. Hendaknya ASI diberikan secepatnya terutama bila ibu dan bayi sehat.</p>
<p>Air susu yang diproduksi pada 1-5 hari pertama dinamakan kolostrum berupa cairan kental yang berwarna kekuningan. Kolostrum ini sangat menguntungkan bayi karena mengandung lebih banyak antibodi, protein, mineral, dan vitamin A. Sebagai pedoman pada hari pertama dan kedua, lama pemberian ASI adalah 5-10 menit pada tiap payudara dan pada hari ketiga dan selanjutnya lama pemberiana ASI adalah 15-20 menit. ASI dapat diberikan terus sampai anak berumur 2 tahun.</p>
<p>PASI</p>
<p>PASI diberikan bila karena sesuatu sebab bayi tidak dapat memperoleh ASI, seperti:</p>
<ul>
<li>Produksi ASI tidak cukup atau sama sekali tidak keluar</li>
</ul>
<ul>
<li>Terdapat penyakit pada ibu, misalnya penyakit gagal jantung</li>
</ul>
<ul>
<li>Bayi dengan kelainan metabolik bawaan, seperti intoleransi laktosa</li>
</ul>
<ul>
<li>Ibu sedang dirawat di rumah sakit dan dipisahkan dari ibunya</li>
</ul>
<ul>
<li>Ibu bekerja atau berdagang yang letaknya jauh dari tempat tinggalnya.</li>
</ul>
<p>Berdasarkan umur bayi, PASI dibagi menjadi 2 golongan, yaitu PASI formula awal (starting formula) dan PASI Formula tindak lanjut (follow-on formula). Formula awal dibagi lagi menjadi formula awal adaptasi dan formula awal lengkap.</p>
<p>Formula awal adaptasi adalah formula yang susunan gizinya disesuaikan dengan fisiologis bayi baru lahir. Formula ini diberikan pada bayi baru lahir sampai berumur 6 bulan. Beberapa formula awal adaptasi yang beredar di Indonesia diantaranya bebelac 1, bimbi, dumex sb, enfamil, morinaga bmt, nan, nutrilon primer, s26, dan vitalac.</p>
<p>Formula awal lengkap berarti susunan zat gizinya lengkap dan pemberiannya dapat dimulai setelah bayi dilahirkan. Dibandingkan dengan formula awal adaptasi, formula ini mememiliki kadar protein dan mineral yang lebih tinggi. Keuntungan dari formula bayi ini terletak pada harganya yang lebih murah. Beberapa formula awal yang lengkap yang beredar di Indonesia diantaranya lactogen 1, nestogen, new camelpo, dan sgm.</p>
<p>Formula tindak lanjut diberikan setelah bayi berumur 6 bulan dimana bayi telah mendapat makanan pelengkap. Beberapa formula tindak lanjut yang beredar di Indonesia antara lain beeblac 2, benamil, chilmil, dumex sl, anfapro, lactogen 2, nestlac, nutrima, promil, sgm 2, vitalac 2, dll.</p>
<p>Bagaimana pengaturan makanan utama pada bayi?</p>
<p>Segera setelah lahir, bayi yang sehat dapat diberikan makanan melalui mulut dengan tujuan mempertahankan metabolisme dan pertumbuhan normal pada saat transisi dari kehidupan intra-ke ekstra-uterin, menggalang hubungan batin antara ibu dan bayinya terutama bayi yang diberikan ASI dan mengurangi resiko hipoglikemia, hiperkalemia, hiperbilirubinemia, dan azotemia.</p>
<p>Pemberian minum pada neonatus (bayi baru lahir) didasarkan pada pengosongan lambung yaitu antara 1-4 jam sehingga yang terbaik adalah pemberian minum sesukanya tanpa penjadwalan (ad libitum). Pemberian makanan bayi dikatakan baik bila berat badan tidak turun lagi pada pada hari ke-5 dan 7 atau berat badan meningkat pada hari ke 12 dan 13.</p>
<p>Selama bayi belum mendapat makanan pelengkap atau makanan tambahan lain, maka tidak perlu penjadwalan khusus bagi pemberian asi.</p>
<p>Cara menilai ASI/PASI yang diberikan sudah mencukupi?</p>
<p>Untuk menilai kecukupan ASI/PASI ada beberapa kriteria:</p>
<ul>
<li>Sesudah menyusu atau minum bayi tampak puas, tidak menangis dan dapat tidur dengan nyenyak</li>
</ul>
<ul>
<li>PASI yang diberikan tidak bersisa</li>
</ul>
<ul>
<li>Selambatnya 2 minggu setelah lahir, berat badan waktu lahir tercapai kembali</li>
</ul>
<ul>
<li>Bayi tumbuh dengan baik. Pada umur 5-6 bulan berat badan mencapai 2 kali berat badan lahir. Pada umur 1 tahun berat badan mencapai 3 kali lipat berat badan lahir.</li>
</ul>
<p>MAKANAN PELENGKAP</p>
<p>Umumnya bayi membutuhkan makanan pelengkap setelah anak berumur 6 bulan. Makanan ini diolah dan diberikan secara bertahap sesuai dengan umur dan pertambahan berat badan bayi. Makanan yang dipilih tentunya yang kaya dengan nutrisi, biasanya terdiri dari buah-buahan, sayur-sayuran, daging, ikan, ayam, dll dengan komposisi yang seimbang.</p>
<p>Buah-buahan</p>
<p>Buah sudah dapat diberikan pada umur 4-6 bulan atau berat badan mencapai 4,5-5 kg, dan bergantung pada kesukaan bayi. Pilih buah yang segar serta masak dan cuci terlebih dahulu. Jika yang diberikan adalah pepaya, pisang, dan alpukat, setelah dikupas keroklah halus dengan sendok kecil. Tomat direndam dalam air panas dan dibuang kulitnya, lalu disaring dan diencerkan dengan air matang dengan perbandingan yang sama. Jeruk diperas dan disaring, serta dapat diencerkan dengan perbandingan yang sama.</p>
<p>Biskuit</p>
<p>Biskuit yang dicairkan terlebih dahulu dengan air minum biasa, air teh, atau susu encer dapat diberikan pada umur 4-6 bulan atau berat badan mencapai 4,5-6 kg.</p>
<p>Bubur susu</p>
<p>Bubur susu mulai diberikan pada bayi berumur 4-5 bulan bila berat badannya mencapai 5,5-6 kg. Bubur susu merupakan makanan padat pertama yang dapat diberikan pada bayi.</p>
<p>Cara membuat bubur susu:</p>
<ul>
<li>Campurkan tepung beras/maizena/kacang hijau/havermout 1,5 sendok makan (15 gr) dengan susu cair 1 gelas (200 ml) dan gula pasir 1 sendok makan (10 ml).</li>
</ul>
<ul>
<li>Masak diatas api sambil diaduk hingga matang. Energi yang dikandung sebesar 217 kkal.</li>
</ul>
<p>Nasi Tim/bubur campur</p>
<p>Nasi Tim saring diberikan pada bayi berumur 6 bulan dengan berat badan 6-7 kg dan pada umur 8-9 bulan diberikan dalam bentuk tidak disaring.</p>
<p>Bahan makanan dicuci, ikan/daging dan tempe/tahu dipotong kecil atau dicincang, sayuran dipotong pendek. Semua bahan dimasukkan kedalam panci dan diberi air. Dimasak dengan api sedang dan ditutup. Setelah mendidih diaduk dan dimask terus hingga kental dan matang. Bila dibutuhkan dalam bentuk halus dapat disaring atau dihaluskan dengan blender. Enegi yang dikandung nasi tim tersebut sebesar 155 kkal.</p>
<p>Bahan yang dibutuhkan untuk membuat satu porsi nasi tim:Beras 2 sdm (20 gr), daging/ikan 1 potong kecil (25 gr), tempe/tahu 1 potong kecil (10 gr), sayur (bayam/kangkung/daun singkong muda/wortel/labu kuning, dll) 0,5 gelas (25 gr), air 3-4 gelas (800 gr)</p>
<p>Beberapa poin tentang makanan pelengkap antara lain:</p>
<ul>
<li>Setelah bayi berumur 4-6 bulan, bayi dapat diberi buah dan biskuit dengan jadwal pemberian pukul 11.00 dan 16.00 sedangkan pemberian ASI tetap dapat diberikan setiap saat sesukanya.</li>
</ul>
<ul>
<li>Saat bayi berumur 4 bulan atau setelah mencapai berat badan 5,5 kg, bayi dapat diberi makanan padat pertama berupa bubur susu untuk makan pagi (pukul 09.00). Bila telah menyukainya, bubur susu dapat diberi untuk makan sore (pukul 17.00).</li>
</ul>
<ul>
<li>Setelah bayi berumur 6 bulan atau setelah berat badannya 6,5 kg, bayi dapat diberi makanan padat kedua berupa nasi tim saring yang diberikan yang diberikan 2 kali sebagai makan siang dan makan malam. Sekitar umur 8-9 bulan bayi dapat diberi nasi tim biasa.</li>
</ul>
<p>Namun begitu seperti yang telah disebutkan sebelumnya, jika anak mendapatkan ASI, lanjutkan ASI ekslusif sampai bayi berumur 6 bulan karena ASI masih bisa mencukupi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan bayi sampai umur tersebut.</p>
<p>Secara umum, bayi sehat telah memadai makanannya secara kualitas dan kuantitas apabila bayi bisa tumbuh secara optimal.</p>
<p>Referensi:1. Mansjoer A. Et all, editor. Kapita Selekta Kedokteran, Ed.3. Jakarta: Media Aesculapsius, 2000:568-75.2. Butte NF, Lopez-Alarcon MG, Garza C. Nutrient adequacy of exclusif bresfeeding for the term infant during the first six months of life. Geneva: WHO, 2002.dr. Wenni</p>
<p>sumber : <a href="http://jilbab.or.id/" target="_blank">http://jilbab.or.id/</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ayulian.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ayulian.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ayulian.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ayulian.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ayulian.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ayulian.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ayulian.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ayulian.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ayulian.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ayulian.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ayulian.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ayulian.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ayulian.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ayulian.wordpress.com/77/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayulian.wordpress.com&amp;blog=6755621&amp;post=77&amp;subd=ayulian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayulian.wordpress.com/2009/04/18/makanan-sehat-untuk-bayi-sehat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7e162fc37d4763ef9a994a0e74d9caa2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tanggung Jawabmu di Rumah Suamimu</title>
		<link>http://ayulian.wordpress.com/2009/04/15/tanggung-jawabmu-di-rumah-suamimu/</link>
		<comments>http://ayulian.wordpress.com/2009/04/15/tanggung-jawabmu-di-rumah-suamimu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Apr 2009 14:03:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayulian</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARtikeL]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ayulian.wordpress.com/2009/04/15/tanggung-jawabmu-di-rumah-suamimu/</guid>
		<description><![CDATA[Minimnya perhatian dan kelembutan seorang ibu yang tersita waktunya untuk aktivitas di luar rumah, jika mau disadari, sejatinya berpengaruh besar pada perkembangan jiwa anak. Terlebih jika keperluan anak dan suaminya malah diserahkan kepada sang pembantu/babysitter. Lantas di manakah tanggung jawab untuk menjadikan rumah sebagai madrasah bagi anak-anak mereka? Banyak orang bodoh meneriakkan agar wanita jangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayulian.wordpress.com&amp;blog=6755621&amp;post=70&amp;subd=ayulian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#800080;"><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;"><span class="content">Minimnya perhatian dan kelembutan seorang ibu yang tersita waktunya untuk aktivitas di luar rumah, jika mau disadari, sejatinya berpengaruh besar pada perkembangan jiwa anak. Terlebih jika keperluan anak dan suaminya malah diserahkan kepada sang pembantu/babysitter. Lantas di manakah tanggung jawab untuk menjadikan rumah sebagai madrasah bagi anak-anak mereka?</span></span></span></p>
<p>Banyak orang bodoh meneriakkan agar wanita jangan dikungkung dalam rumahnya, karena membiarkan wanita diam menganggur dalam rumah berarti membuang separuh dari potensi sumber daya manusia. Biarkan wanita berperan dalam masyarakatnya, keluar rumah bahu membahu bersama lelaki membangun negerinya dalam berbagai bidang kehidupan!!!</p>
<p>Demikian igauan mereka. Padahal dari sisi mana mereka yang bodoh ini dapat menyimpulkan bahwa separuh potensi sumber daya manusia terbuang? Dari mana mereka dapat istilah bahwa wanita yang diam di rumah karena mengurusi rumahnya adalah pengangguran? Ya, karena memang dalam defenisi kebodohan mereka, wanita pekerja adalah yang bergiat di luar rumah. Adapun yang cuma berkutat dengan pekerjaan domestik, mengurus suami dan anak-anaknya bukanlah pekerja tapi penganggur. Tidak memberikan pendapatan bagi negara.</p>
<p>Tahukah mereka bahwa Islam justru memberi pekerjaan yang mulia kepada wanita, kepada para istri di rumah-rumah mereka? Mereka diberi tanggung jawab. Dan dengan tanggung jawab tersebut, bisakah diterima bila mereka dikatakan menganggur, tidak memberikan sumbangsih apa-apa kepada masyarakat dan negerinya? Dalam bentuk pendapatan berupa materi mungkin tidak. Tapi dalam mempersiapkan generasi yang sehat agamanya dan fisiknya? Tentu tak dapat dipungkiri peran mereka oleh orang yang berakal sehat dan lurus serta mau menggunakan akalnya. Suatu peran yang tidak dapat dinilai dengan materi.<span id="more-70"></span></p>
<p>Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan:<br />
<span style="font-family:Times New Roman;">أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْإِمَامُ الْأَعْظَمُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْؤُولَةٌ عَنْهُمْ، وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ</span><br />
&#8220;Setiap kalian adalah ra’in dan setiap kalian akan ditanya tentang ra’iyahnya. Imam a’zham (pemimpin negara) yang berkuasa atas manusia adalah ra’in dan ia akan ditanya tentang ra’iyahnya. Seorang lelaki/suami adalah ra’in bagi ahli bait (keluarga)nya dan ia akan ditanya tentang ra’iyahnya. Wanita/istri adalah ra’iyah terhadap ahli bait suaminya dan anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka. Budak seseorang adalah ra’in terhadap harta tuannya dan ia akan ditanya tentang harta tersebut. Ketahuilah setiap kalian adalah ra’in dan setiap kalian akan ditanya tentang ra’iyahnya.&#8221; (HR. Al-Bukhari no. 5200, 7138 dan Muslim no. 4701 dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu &#8216;anhuma)</p>
<p>Makna ra’in adalah seorang penjaga, yang diberi amanah, yang harus memegangi perkara yang dapat membaikkan amanah yang ada dalam penjagaannya. Ia dituntut untuk berlaku adil dan menunaikan perkara yang dapat memberi maslahat bagi apa yang diamanahkan kepadanya. (Al-Minhaj 12/417, Fathul Bari, 13/140)</p>
<p>Berdasarkan makna ra’in di atas, berarti setiap orang memegang amanah, bertindak sebagai penjaga, dan kelak ia akan ditanya tentang apa yang diamanahkan kepadanya. Seorang pemimpin manusia, sebagai kepala negara ataupun wilayah yang lebih kecil darinya, merupakan pemegang amanah dan bertanggung jawab terhadap kemaslahatan rakyatnya dan kelak ia akan ditanya tentang kepemimpinannya. Begitu pula seorang suami sebagai kepala rumah tangga, ia memegang amanah, sebagai penjaga serta pengatur bagi keluarganya dan kelak ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.</p>
<p>Berikutnya seorang istri, selaku pendamping suami, ia memegang amanah sebagai pengatur urusan dalam rumah suaminya berikut anak-anak suaminya dan ia pun kelak akan ditanya tentang pengaturannya dan tentang anak-anaknya.</p>
<p>Al-Khaththabi rahimahullahu berkata, &#8220;Mereka yang disebutkan dalam hadits di atas, seorang imam/pemimpin negara, seorang lelaki/suami dan yang lainnya, semuanya berserikat dalam penamaan atau pensifatan sebagai ra’in. Namun makna atau tugas/peran mereka berbeda-beda. Amanah dan tanggung jawab imam a’zham (pemimpin negara) adalah untuk menjaga syariat dengan menegakkan hukum had dan berlaku adil dalam hukum. Sementara kepemimpinan seorang suami terhadap keluarganya adalah pengaturannya terhadap perkara mereka dan menunaikan hak-hak mereka. Adapun seorang istri, amanah yang ditanggungnya adalah mengatur urusan rumahnya, anak-anaknya, pembantunya dan mengatur semua itu dengan baik untuk suaminya. Seorang pelayan ataupun budak, ia bertanggung jawab menjaga apa yang ada di bawah tangannya dan menunaikan pelayanan yang wajib baginya.&#8221; (Fathul Bari, 13/141)</p>
<p>Al-Qadhi Iyadh rahimahullahu mengatakan, &#8220;Hadits ini menunjukkan bahwa setiap orang yang mengurusi sesuatu dari perkara orang lain, ia dituntut untuk berlaku adil di dalamnya, menunaikan haknya yang wajib, menegakkan perkara yang dapat memberi maslahat kepada apa yang diurusinya. Seperti, seorang suami dalam keluarganya, istri dalam pengurusannya terhadap rumah dan harta suaminya serta anak-anaknya, budak dalam pengurusan dan pengaturannya terhadap harta tuannya.&#8221; (Al-Ikmal, 6/230)</p>
<p>Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu menjelaskan, &#8220;Setiap ra’in bermacam-macam yang diaturnya dan amanah yang ditanggungnya. Ada yang tanggung jawabnya besar lagi luas dan ada yang tanggung jawabnya kecil. Karena itulah Nabi bersabda: <span style="font-family:Times New Roman;">الأَمِيرُ رَاعٍ</span>, ia akan ditanya tentang ra’iyahnya (rakyatnya/ apa yang diatur dan dipimpinnya), seorang suami juga ra’in tapi ra’iyahnya terbatas hanya pada ahli baitnya, yaitu istrinya, anak laki-lakinya, anak perempuannya, saudara perempuannya, bibinya dan semua orang yang ada di rumahnya. Ia ra’in bagi ahli baitnya dan akan ditanya tentang ra’iyahnya, maka wajib baginya untuk mengatur dan mengurusi mereka dengan sebaik-baik pengaturan/pengurusan, karena ia akan ditanya dan diminta pertanggungjawaban tentang mereka.</p>
<p>Demikian pula seorang istri merupakan ra’iyah di rumah suaminya dan akan ditanya tentang urusannya. Maka wajib baginya untuk mengurusi rumah dengan baik, dalam memasak, dalam menyiapkan kopi, teh, dalam menyiapkan tempat tidur. Janganlah ia memasak lebih dari yang semestinya. Jangan ia membuat teh lebih dari yang dibutuhkan. Ia harus menjadi seorang wanita yang bersikap pertengahan, tidak mengurangi-ngurangi dan tidak berlebih-lebihan, karena sikap pertengahan adalah separuh dari penghidupan. Tidak melampaui batas dalam apa yang tidak sepantasnya. Si istri bertanggung jawab pula terhadap anak-anaknya dalam perbaikan mereka dan perbaikan keadaan serta urusan mereka, seperti dalam hal memakaikan pakaian kepada mereka, melepaskan pakaian yang tidak bersih dari tubuh mereka, merapikan tempat tidur mereka, memerhatikan penutup tubuh mereka di musim dingin. Demikian, ia akan ditanya tentang semua itu. Sebagaimana ia akan ditanya tentang memasaknya untuk keluarganya, baiknya dalam penyiapan dan pengolahannya. Demikianlah ia akan ditanya tentang seluruh apa yang ada di dalam rumahnya.&#8221; (Syarhu Riyadhis Shalihin, 2/106,107)</p>
<p>Jelas, wanita sudah memiliki amanah dan tugas tersendiri yang harus dipikulnya dengan sebaik-baiknya. Dan yang menetapkan amanah dan tugas tersebut bukan sembarang orang tapi manusia yang paling mulia, paling berilmu dan paling takut kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, yaitu Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sebagai pengemban syariat yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dari atas langit yang ketujuh. Dan beliau tidaklah menetapkan syariat dari hawa nafsunya, melainkan semuanya merupakan wahyu yang diwahyukan kepada beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>Dan para ibu rumah tangga jangan termakan dan tertipu dengan teriakan orang-orang bodoh di luar sana sehingga timbul rasa minder berhadapan dengan wanita-wanita karir dan merasa diri cuma menganggur di rumah. Padahal di rumah ada suami yang harus ditaati dan dikhidmatinya. Ada anak-anak yang harus ditarbiyah dengan baik. Ada harta suami yang harus diatur dan dijaga sebaik-baiknya. Dan ada pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang butuh penanganan dan pengaturan. Semua ini pekerjaan yang mulia dan berpahala bila diniatkan karena Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Dan para ibu rumah tangga harus ingat bahwa mereka kelak pada hari kiamat akan ditanya tentang amanah yang dibebankan kepadanya, berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam di atas dan juga ada hadits lain yang berbunyi:<br />
<span style="font-family:Times New Roman;">مَا مِنْ رَاعٍ إِلاَّ يُسْأَلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَقَامَ أَمْرَ اللهِ أَمْ أَضَاعَهُ</span><br />
&#8220;Tidak ada seorang ra’in pun kecuali ia akan ditanya pada hari kiamat, apakah ia menunaikan perintah Allah atau malah menyia-nyiakannya.&#8221; (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Ausath dari Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu, sebagaimana dibawakan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahu dalam Fathul Bari ketika memberi penjelasan terhadap hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma di atas )<br />
Dan juga hadits:<br />
<span style="font-family:Times New Roman;">إِنَّ اللهَ سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعَاهُ حَفِظَ أَوْ ضَيَّعَهُ</span><br />
&#8220;Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada setiap ra’in tentang apa yang dibawah pengaturannya, apakah ia menjaganya atau malah menyia-nyiakannya.&#8221; (HR. Ibnu ‘Adi dengan sanad yang dishahihkan oleh Al-Hafizh rahimahullahu dalam Fathul Bari, dari Anas bin Malik radhiyallahu &#8216;anhu)</p>
<p>Dengan demikian, kita dapat memahami bahwa seorang yang mukallaf, termasuk dalam hal ini seorang istri sebagai ibu rumah tangga, akan menanggung dosa karena sikap penyia-nyiaannya terhadap perkara yang berada di bawah tanggungannya. (Fathul Bari, 13/141)<br />
Karenanya tunaikan amanah dan tugasmu dengan sebaik-baiknya. Dan sadarilah bahwa peran wanita dalam masyarakat Islam amatlah besar dan penting. Di mana ia harus menunaikan hak suaminya dan kewajibannya terhadap anak-anaknya dengan memberikan pendidikan dan menyiapkan kebutuhan mereka agar kelak anak-anak tersebut dapat membawa agamanya dengan kekuatan dan kemuliaan. (Bahjatun Nazhirin, 1/369)<br />
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.</p>
<p><span style="color:#800080;"><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;"><span class="dateartikel">Ahad, 27-Juli-2008, Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah </span></span></span></p>
<p>http://asysyariah.com/print.php?id_online=625</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ayulian.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ayulian.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ayulian.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ayulian.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ayulian.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ayulian.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ayulian.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ayulian.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ayulian.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ayulian.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ayulian.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ayulian.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ayulian.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ayulian.wordpress.com/70/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayulian.wordpress.com&amp;blog=6755621&amp;post=70&amp;subd=ayulian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayulian.wordpress.com/2009/04/15/tanggung-jawabmu-di-rumah-suamimu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7e162fc37d4763ef9a994a0e74d9caa2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menciptakan Rumah IdeaL</title>
		<link>http://ayulian.wordpress.com/2009/03/10/menciptakan-rumah-ideal/</link>
		<comments>http://ayulian.wordpress.com/2009/03/10/menciptakan-rumah-ideal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 09:25:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayulian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ayulian.wordpress.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Rumah merupakan salah satu di antara nikmat-nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar hamba-hamba-Nya bisa berlindung dari panasnya matahari, dinginnya hujan, dan udara dari luar, serta untuk menyimpan barang-barang miliknya, juga untuk menutup diri dan menjaga keluarganya dari pandangan manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal. (QS. An-Nahl/16: 80). [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayulian.wordpress.com&amp;blog=6755621&amp;post=57&amp;subd=ayulian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="snap_preview">
<p align="justify">Rumah merupakan salah satu di antara nikmat-nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar hamba-hamba-Nya bisa berlindung dari panasnya matahari, dinginnya hujan, dan udara dari luar, serta untuk menyimpan barang-barang miliknya, juga untuk menutup diri dan menjaga keluarganya dari pandangan manusia.</p>
<p><span style="color:#ff00ff;"><span style="color:#808080;">Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</span><br />
<span style="color:#993366;">Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal. (QS. An-Nahl/16: 80).</span></span><span style="color:#ff00ff;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="color:#808080;">Di samping fungsi-fungsi tersebut, juga masih banyak lagi manfaat-manfaat yang diperoleh manusia dari rumah. Kita tidak bisa membayangkan seandainya hidup tanpa rumah. Niscaya banyak bahaya yang akan mengancam kita dan keluarga kita, baik dari sisi kesehatan, keamanan, kenyamanan, maupun keselamatan. Jika kita amati, orang-orang yang tidak mempunyai rumah, baik sedang di kamp pengungsian atau gelandangan yang tinggal di bawah jembatan atau di pinggir jalan, maka kita akan merasakan betapa besar nikmat sebuah rumah.</span></p>
<p align="justify">Begitulah, betapa indahnya sebuah rumah. Ia merupakan tempat tinggal, tempat berkumpul dengan keluarga, tempat mendidik dan melatih anak-anak kita agar tumbuh lebih dewasa dan bertanggung jawab, di samping sebagai tempat aman bagi kaum wanita.</p>
<p align="justify">Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:<br />
<span style="color:#993366;">Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. (QS. Al Ahzab/33: 33).</span></p>
<p align="justify">Rumah yang ideal dan bahagia adalah rumah yang dibangun di atas dasar ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pilar-pilarnya mengikuti dan mengambil hukum dari al qur’an dan as-Sunnah.</p>
<p align="justify">Penghuninya juga ridha dengan keputusan yang diambil dari keduanya. Begitu juga apabila terjadi perselisihan dan timbul permasalahan, mereka mengembalikan kepada kedua sumber hukum yang mulia, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan dalam firman-Nya surat an-Nisa’ ayat 59, yang artinya: <span style="color:#993366;">kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. <span id="more-57"></span></span></p>
<p align="justify">Dari sisi lahiriahnya, rumah tersebut jauh dari sifat berlebih-lebihan, dan lebih menunjukkan kesederhanaan, baik dalam masalah makanan, minuman, pakaian, perhiasan, peralatan maupun perabot rumah tangga. Penghuninya selalu memperhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: <span style="color:#993366;">Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-a’raf/7: 31).</span></p>
<p align="justify">Maksudnya, jangan melampaui batas yang dibutuhkan oleh tubuh, dan jangan pula melampaui batas-batas makanan yang dihalalkan. Namun demikian, bukan berarti Islam mengesampingkan masalah keindahan rumah. Akan tetapi yang dimaksudkan ialah dengan cara yang sederhana dan tidak boros. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya : <span style="color:#ff00ff;"><span style="color:#993366;">Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan rizki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Al- a’raf/7: 32).</span><br />
</span><br />
Bahwasanya perhiasan-perhiasan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan makanan yang baik itu dapat dinikmati di dunia ini oleh orang-orang yang beriman dan orang-orang yang tidak beriman. Adapun di akhirat nanti, semata-mata hanyalah untuk orang-orang beriman saja.</p>
<p align="justify">Kesederhanaan bersikap dan lurus dalam berfikir ini merupakan syari’at Islam yang diajarkan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita, seperti tampak dalam hadits yang diriwayatkan ‘Aisyah:</p>
<p dir="rtl" align="justify"><span style="color:#993366;">مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا</span></p>
<p align="justify"><span style="color:#993366;">Rasulullah tidak diperintahkan memilih di antara dua perkara melainkan beliau memilih yang paling mudah di antara keduanya. (HR. Imam Bukhari, 3/1306).</span></p>
<p align="justify">Rumah seperti inilah yang diharapkan oleh setiap muslim, tidak hanya menjadi tempat tinggal dan istirahatnya, namun mampu memenuhi kebutuhan ruhani dan jasmaninya, juga menjadi tempat untuk mendidik istri dan anak-anaknya, menggantunkan harapannya dan cita-citanya, menjadikan keluarganya di atas bangunan takwa dan iman, selalu dinaungi oleh perasaan tenteram dan kebahagiaan dalam upaya menggapai ridha Rabbnya. Semua ini dapat tercapai bila rumah tersebut dipenuhi dengan dua perkara, yaitu secara fisik maupun secara maknawi.</p>
<p><span style="color:#ff0000;">SECARA FISIK<br />
Pertama, Menjaga Kebersihan Rumah.</span></p>
<p align="justify">Rumah ideal ialah rumah yang memperhatikan kebersihan, selalu menjaganya dan mengaplikasikan firman Allah :</p>
<p align="justify"><span style="color:#993366;">Dan Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. (QS. At-Taubah/9: 108).</span></p>
<p align="justify">Islam sangat memperhatikan masalah kebersiha, karena kebersihan merupakan bagian dari ibadah. Seorang muslim dituntut untuk selalu menjaga kebersihan pakaiannya dari najis dan kotoran. Begitu juga diperintahkan untuk bersuci setelah membuang air besar ataupun kecil, membersihkan kotoran, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur bulu kemaluan, membersihkan diri dari hadats, haid dan nifas. Semua itu merupakan kebersihan-kebersihan yang dianjurkan dan diperhatikan oleh kaum Muslimin. Demikian juga dengan menggosok gigi atau menggunakan siwak dan lain-lainnya.</p>
<p align="justify">Islam juga memerintahkan kita untuk membersihkan hati dari dengki dna hasad, menjaga mulut dari perkataan yang tidak bermanfaat, serta perkataan yang menyakitkan orang lain. Dengan demikian, seorang muslim benar-benar termasuk orang-orang yang menjaga kebersihan, sehingga tidak ada jalan bagi setan masuk ke dalam rumahnya.</p>
<p align="justify"><span style="color:#ff0000;"><span style="color:#ff0000;">Kedua, Memperhatikan hijab.</span><br />
</span>Dengan adanya hijab, maka kaum wanita yang mendiami rumah akan terjaga kehormatannya, dan merasa aman dari pandangan orang lain, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: <span style="color:#993366;">Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hari mereka. (QS al Ahzab/33: 53).<br />
</span><br />
Menurut Imam al Qurthubi, dalam ayat ini terdapat dalil bahwasanya Allah mengijinkan bertanya kepada isteri-isteri Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dari belakang tabir, apabila ada keperluan atau ingin bertanya tentang suatu masalah; dan seluruh wanita termasuk dalam makna ini, sesuai dengan prinsip-prinsip syari’ah bahwasanya wanita adalah aurat, badannya dan suaranya.(Tafsir al Qurthubi 14/227).</p>
<p align="justify">Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithi menjelaskan dalam kitab beliau, bahwasanya dalam ayat yang mulia ini terdapat dalil yang sangat jelas tentang wajibnya tabir dan merupakan hukum yang umum bagi seluruh wanita, bukan khusus bagi isteri-isteri Nabi ‘alaihi wa sallam saja, walaupun dari sisi konteks kalimatnya khusus bagi mereka. Akan tetapi, keumuman sebabnya sebagai dalil bagi keumuman hukumnya. (Tafsir Adhwa’ul-Bayan, 6/242).</p>
<p align="justify"><span style="color:#ff0000;">Ketiga, Memisahkan tempat tidur anak,</span><br />
Khususnya apabila mereka mendekati usia baligh.<br />
Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p dir="rtl" align="justify"><span style="color:#993366;">مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ</span></p>
<p align="justify"><span style="color:#993366;">Perintahkan anak yang berumur tujuh tahun untuk mengerjakan shalat; pukullah mereka pada umur sepuluh tahun jika mereka enggan mengerjakannya, dan pisahkanlah tempat tidur mereka. (Hadits hasan, diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, 495).<br />
</span><br />
Sebaiknya orang tua memisahkan tempat tidur anak-anak yang hampir baligh, laki-laki atau perempuan, karena Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk melakukannya. Berkumpulnya mereka dalam satu tempat tidur, tersingkapnya aurat dan bersentuhan badan mereka, akan menimbulkan keburukan dan kerusakan, khususnya pada umur-umur yang mendekati baligh. Al Manawi di dalam kitab Fathul-Qadir Syarhi al Jami’ berkata: “Pisahkan tempat tidur anak-anak, jika mereka telah berumur sepuluh tahun, untuk menjaga ddari gejolak nafsu walaupun sesama anak perempuan.</p>
<p align="justify"><span style="color:#ff0000;">Keempat, Tidak memasukkan gambar-gambar makhluk yang bernyawa dan patung-patung ke dalam rumah, dan juga tidak memelihara anjing.<br />
</span><br />
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p dir="rtl" align="justify"><span style="color:#993366;">يَقُولُ لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا صُورَةُ تَمَاثِيلَ</span></p>
<p align="justify"><span style="color:#cc99ff;"><span style="color:#993366;">Sesungguhnya malaikat tidak memasuki rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar. (HR al Bukhari)</span><br />
</span><br />
Di dalam kitab beliau, al Iman Manawi berkata: “Para malaikat yang dimaksud di sini ialah malaikat rahmat dan barakah, atau malaikat yang mengelilingi manusia, atau mengunjunginya untuk mendengar dzikir atau yang semisalnya, bukan malaikat yang mencatat amal perbuatan manusia; sesungguhnya para malaikat itu tidak pernah meninggalkan mereka sekejap pun, demikian juga malaikat pencabut nyawa. Para malaikat tidak memasuki rumah atau sejenisnya, yang di dalamnya terdapat gambar; karena diharamkannya menggambar makhluk hidup; karena tukang gambar seakan Allah dalam masalah pembentukan. Ini memberikan kesimpulan sebab diharamkannya gambar dan kerasnya pengingkaran tentang hal itu. Dan malaikat tidak memasuki rumah, yang di dalamnya ada anjing, karena najisnya dan menyerupai tempat-tempat yang kotor; padahal malaikat tersucikan dari tempat-tempat kotor. Maka tepatlah malaikat menjauhi rumah-rumah seperti ini”. (Faidhul-Qadhir, 2/394).</p>
<p align="justify"><span style="color:#ff0000;"><span style="color:#ff0000;">Kelima, Menjauhkan rumah dari nyanyian dan alat-alat musik.</span><br />
</span>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:<span style="color:#cc99ff;"> </span><span style="color:#ff00ff;"><span style="color:#993366;">Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan- akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih. (QS. Luqman/31: 6-7).</span><br />
</span><br />
Al Wahidi dan yang lainnya berkata: “Sebagian besar ahli tafsir (berpendapat), yang dimaksud dengan “perkataan yang tidak berguna” (dalam ayat ini) ialah nyanyian. Demikian juga pendapat ‘Abdullah Ibn ‘Abbas, ‘Abdullah Ibn Mas’ud, ‘Abdullah Ibn Umar, Mujahid dan Ikrimah. (Ighatsatul-lihfan fi Mashayidisy-Syaithan, 1/360).</p>
<p align="justify">Imam Ibnu Qayyim menjelaskan: “Sesungguhnya tidak engkau dapatkan seseorang yang sibuk dengan nyanyian dan alat-alatnya melainkan ia telah tersesat ilmu dan amalnya dari jalan petunjuk. Dia mendengarkan nyanyian dan berpaling dari al Qur’an. Apabila ditunjukkan kepadanya antara mendengar nyanyian dan mendengar al Qur’an, maka ia lebih memilih mendengarkan nyanyian, dan merasa sangat berat untuk mendengar al Qur’an.</p>
<p align="justify">Beliau rahimahullahu melanjutkan penjelasannya: “Pembicaraan dalam masalah (bahaya nyanyian) ini, dirasakan oleh orang yang masih ada kehidupan di hatinya. Adapun orang yang hatinya telah mati dan fitnahnya cukup besar, maka dia menutup dirinya dari nasihat tersebut. Allah telah berfirman, yang artinya: <span style="color:#993366;">Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (QS al Maidah/5 ayat 41).<br />
</span><br />
<span style="color:#ff0000;"><span style="color:#ff0000;">Keenam, Membersihkan rumah dari segala tanda-tanda salib.</span><br />
</span>Sesuatu yang sangat memprihatinkan bahwasanya sebagian besar kaum muslimin mengikuti kebiasaan orang-orang kafir secara membabi buta. Orang-orang kafir membuka pintu-pintu kesesatan dengan memasukkan tanda-tanda salib ke dalam rumah-rumah kaum Muslimin tanpa mereka sadari. Tanda-tanda salib ini berbentuk ornamen hiasan pada baju, jendela, buku-buku dan lain-lainnya.</p>
<p align="justify">Oleh karena itu berhati-hatilah! Jangan sampai barang yang keji ini masuk ke dalam rumah kita, karena ini merupakan ciri-ciri kesyirikan dan kekufuran. Larang ini disebutkan dalam hadits Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam :</p>
<p align="justify"><span style="color:#cc99ff;"><span style="color:#993366;">Sesungguhnya Nabi, tidaklah meninggalkan sesuatu yang berbentuk salib, melainkan beliau rusak. (HR Imam Bukhari, 5/2220).</span><br />
</span><br />
<span style="color:#ff0000;">SECARA MAKNAWI<br />
</span><span style="color:#ff0000;"><span style="color:#ff0000;">Pertama, Berusaha membina hubungan yang harmonis antara suami dan isteri.</span><br />
</span><br />
Rumah tangga bahagia adalah kunci kebaikan umat. Sedangkan kebaikan umat merupakan faktor utama tercapainya kejayaan dan kemuliaan. Maka umat tak mungkin baik, kecuali pondasi paling mendasar dari kehidupan masyarakat, yaitu rumah tangga menjadi baik. Rumah tangga tak mungkin bahagia, kecuali jika suami dan isteri bersikap baik, tunduk dan patuh dalam menjalankan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.</p>
<p align="justify">Demikian juga dengan suami yang baik, ia selalu menunaikan kewajiban-kewajibannya; baik yang berhubungan dengan Rabbnya, keluarga, maupun orang-orang yang menjadi tanggungannya dengan ketulusan hati dan penuh tanggung jawab. Selain itu, dalam urusan rumah tangga, dia tidak serakah, tidak menuntut haknya lebih banyak dari yang semestinya. Dia pun lapang dada, bila haknya berkurang dari yang seharusnya. Pantang menyia-nyiakan kewajiban. Bahkan, ia tunaikan terlebih dahulu kewajibannya sebelum menuntut haknya. Sedangkan seorang isteri yang baik, ialah isteri yang taat kepada Rabbnya, mempergauli suaminya dengan baik, tidak menyia-nyiakan kewajibannya dan tidak menuntut haknya lebih dari semestinya.</p>
<p align="justify">Dari rumah inilah akan lahir tokoh-tokoh besar umat.Baik dari kalangan pria atau wanita. Perkawinan adalah ikatan terpenting. Bila ikatan ini berjalan di atas ketakwaan, iman dan kasih sayang, maka umat ini akan tampil dengan kemuliaannya dan disegani. Sebaliknya, jika hak dan kewajiban rumah tangga diabaikan maka rumah tangga akan berantakan. Demikian juga umat akan tercerai-berai dan terhinakan. Oleh sebab inilah Islam hadir untuk memelihara ikatan tersebut, mengokohkannya dan menjaga eksistensinya.</p>
<p align="justify"><span style="color:#ff0000;"><span style="color:#ff0000;">Kedua, Menjaga hubungan yang baik antara anak dan orang tua.</span><br />
</span><br />
Rumah yang penuh kebahagiaan, ialah rumah yang dibangun di atas dasar ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, berpegang teguh dengan adab-adab Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, dan berbakti kepada orang tua; yaitu dengan berbuat baik, memenuhi seluruh haknya, selalu menaati orang tua dalam perkara yang ma’ruf, menjauhi perkara-perkara yang dibencinya.</p>
<p align="justify">Berbakti kepada orang tua merupakan kewajiban yang sangat ditekankan. Oleh sebab itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menggandengkan dengan perintah untuk mengesakan-Nya, Allah berfirman, yang artinya: <span style="color:#ff00ff;"><span style="color:#993366;">Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. (QS al Isra’/17: 23).</span><br />
</span><br />
Juga disebutkan dalam sebuah hadits, Rasullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p dir="rtl" align="justify"><span style="color:#993366;">رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلْ الْجَنَّةَ</span></p>
<p align="justify"><span style="color:#993366;">“Sungguh celaka, sungguh celaka, sungguh celaka,” ditanyakan kepada beliau: “Siapa, wahai Rasulullah?” (Rasulullah menjawab), “Orang yang menjumpai kedua orang tuanya dalam keadaan usia lanjut salah satunya atau keduanya, lalu ia tidak dapat masuk surga.” (HR. Muslim 4628). </span></p>
<p align="justify">Berbakti kepada orang tua merupakan cahaya penerang bagi rumah kaum Muslimin. Di dalamnya terdapat adab-adab, misalnya: mendengar perkataan mereka, memenuhi perintah mereka, menjawab panggilan mereka, merendahkan diri kepada orang tua dengan penuh kasih sayang, tidak menyelisihi perintahnya, mendoakan dan menjaga kehormatannya setelah mereka wafat, menyambung tali silaturrahmi dengan kerabat-kerabatnya semasa mereka masih hidup dan sesudah wafatnya, tidak durhaka kepada mereka, serta bersedekah atas nama mereka. Dengan demikian rumah-rumah yang dihuni oleh orang-orang yang berbuat baik kepada orang tuanya terasa tenang, tenteram, dan terjaga dari godaan-godaan setan.</p>
<p align="justify"><span style="color:#ff0000;">Ketiga, Hubungan sesama anak-anak di dalam rumah.</span><br />
Menjadi kewajiban orang tua untuk memperhatikan sikap anak-anak terhadap saudara-saudaranya. Berusaha membimbing mereka menuju kebaikan sesuai dengan kemampuannya. Tekankan anak yang lebih muda untuk menghormati yang lebih tua, dan yang lebih tua menyayangi yang lebih muda.<br />
Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p dir="rtl" align="justify"><span style="color:#993366;">قَالَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَعْرِفْ حَقَّ كَبِيرِنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا</span></p>
<p align="justify"><span style="color:#ff00ff;"><span style="color:#993366;">Bukan dari golongan kami orang yang tidak mengetahui hak orang yang lebih tua dan tidak menyayangi orang yang lebih muda. (HR. Ahmad).</span><br />
</span><br />
Hendaklah orang tua mengajarkan adab dan sopan santun terhadap sesama mereka, tidak saling mengejek dan merendahkan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: <span style="color:#ff00ff;"><span style="color:#993366;">Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS al Hujurat/49:11).</span><br />
</span><br />
Begitu juga, hendaknya orang tua memperhatikan dan mengarahkan anak-anak kepada hal-hal yang bermanfaat, dan bukan pada hal-hal yang merusak. (Fiqh Tarbiyatil al Abna’ wa Thaifatu min-Nashaih ath-Thiba’, hlm. 145)</p>
<p><span style="color:#ff0000;">Keempat, Rumah sebagai tempat berdzikir dan beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. </span></p>
<p dir="rtl" align="justify"><span style="color:#993366;">مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِي يُذْكَرُ اللَّهُ فِيهِ وَالْبَيْتِ الَّذِي لَا يُذْكَرُ اللَّهُ فِيهِ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ</span></p>
<p align="justify"><span style="color:#993366;">Perumpamaan rumah yang disebutkan nama Allah di dalamnya dan yang tidak, adalah sebagaimana orang yang hidup dan mati. (HR. Muslim, 779).</span></p>
<p align="justify">Betapa banyak rumah-rumah kaum Muslimin yang sepi dari dzikrullah, bahkan lebih dipenuhi dengan berbagai macam perkara yang mendatangkan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti musik, gambar-gambar makhluk bernyawa, dan berbagai macam bentuk maksiat. Sedangkan rumah-rumah yang di dalamnya selalu diramaikan dengan aktifitas ibadah, adalah rumah yang selalu dikelilingi para malaikat dan membuat setan lari darinya, sebagaimana disebutkan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits:</p>
<p dir="rtl"><span style="color:#993366;">لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ</span></p>
<p align="justify"><span style="color:#993366;">Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan surat al Baqarah. (HR. Muslim).</span></p>
<p align="justify">Juga dalam hadits yang lain, beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p dir="rtl" align="justify"><span style="color:#993366;">إِذَا قَضَى أَحَدُكُمْ الصَّلَاةَ فِي مَسْجِدِهِ فَلْيَجْعَلْ لِبَيْتِهِ نَصِيبًا مِنْ صَلَاتِهِ فَإِنَّ اللَّهَ جَاعِلٌ فِي بَيْتِهِ مِنْ صَلَاتِهِ خَيْرًا</span></p>
<p align="justify"><span style="color:#ff00ff;"><span style="color:#993366;">Jika salah seorang di antara kalian telah selesai dari shalat di masjidnya, maka hendaklah memberikan bagian shalatnya di rumahnya. Sesungguhnya Allah memberikan kebaikan di rumahnya dari sebab shalatnya. (HR. Muslim, 778).</span><br />
</span><br />
Imam an Nawawi berkata: “Jumhur ulama berpendapat, shalat itu adalah shalat sunnah (yang dikerjakan di rumah) dalam rangka menyembunyikannya (dari pandangan manusia). Juga karena hadits lainnya: ‘sebaik-baik shalat adalah shalat seseorang di rumahnya, kecuali shalat yang wajib’, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan shalat di rumah, karena lebih tersembunyi (dari pandangan manusia), lebih jauh dari sifat riya’, dan lebih terjaga dari perkara-perkara yang menyebabkan terhapusnya suatu amalan. Juga untuk mendatangkan barakah bagi rumah tersebut, demikian juga turunnya malaikat dan larinya setan darinya”.</p>
<p align="justify">Akhirnya kami mengajak kaum Muslimin agar menjadikan rumah-rumah mereka, sebagai rumah yang dipenuhi dengan ruku’, sujud, tilawat, menunaikan hak-hak Allah Subhanahu mengikuti adab-adab Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, menunaikan hak-hak sesama dan menjauhkan segala perkara-perkara yang mendatangkan kemurkaan dan adzab-Nya. Sehingga rumah-rumah kaum Muslimin pun merupakan surga mereka di dunia sebelum meraih surga di akhirat kelak. (Ustadz Abu Saad Muhammad Nur Huda)</p>
<p><em><span style="text-decoration:underline;">Majalah Assunnah, Edisi 02/Tahun XI/1428H/2007M</span></em></p>
<p>sumber : <a href="http://rumahkasihsayang.co.nr/" target="_blank">http://rumahkasihsayang.co.nr/</a><em><br />
</em></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ayulian.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ayulian.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ayulian.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ayulian.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ayulian.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ayulian.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ayulian.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ayulian.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ayulian.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ayulian.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ayulian.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ayulian.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ayulian.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ayulian.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayulian.wordpress.com&amp;blog=6755621&amp;post=57&amp;subd=ayulian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayulian.wordpress.com/2009/03/10/menciptakan-rumah-ideal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7e162fc37d4763ef9a994a0e74d9caa2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asri</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
